Social Icons

Pentingnya Menulis Biografi Leluhur)

Semua manusia memiliki asal-usul dari mana ia berasal dan dari siapa ia dilahirkan. Semuanya tidak ada yang tidak memiliki leluhur dan asal-usul, karena manusia hidup selalu berestafet dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Hanya saja kadang Allah mengecualikan beberapa hambanya yang terpilih, seperti lahir tanpa ayah dan ibu, yakni Nabi Adam. Lahir tanpa ayah, yaitu Nabi Isa as. Dan kesemuanya merupakan takdir atas kehendak-Nya. Kita semua, yang hidup di tahun 2023, pasti memiliki ayah, ibu, kakek, nenek, buyut, canggah dan terus keatas. Semua yang pernah hidup pasti memiliki kisah perjalanan yang panjang. Baik dan buruk pasti pernah dilaluinya. Dan kesemuanya memikul sejarah yang amat panjang dan mendalam bagi dirinya dan keluarganya. Andaikata kisah setiap orang tua ditulis, maka setiap manusia memiliki manuskrip sejarah masa lampau di rumahnya masing-masing. Akan tetapi realitanya, tidak semua kisah orang tua dan kakek neneknya ditulis. Entah karena malas, enggan, dan sama sekali tidak mempedulikan hal seperti itu. Padahal setiap perjalanan hidup manusia pasti memiliki kebijaksanaannya tersendiri. Dari lahir sampai dewasa ini, kita lebih banyak membaca dan menulis biografi para Nabi, sahabat, pahlawan, dan tokoh-tokoh penting lainnya yang tersebar di koran, buku cetak, majalah dan sebagainya. Mengapa kita tidak menulis juga kisah orang tua dan leluhur kita? Padahal jika kita tidak menulisnya, kisah kebijaksanaan mereka akan tenggelam ditelan zaman. Apakah karena mereka orang biasa? Justru karena orang biasalah, kisah mereka harus kita tulis. Karena akan jarang menemukan mengangkat kisah orang biasa dengan segudang kebijaksanaan bagi dirinya, keluarganya dan masyarakat sekitar. Karena kita malas menulis kisah mereka, sehingga para leluhur seperti tidak memiliki mutiara. Andaikata memiliki mutiara, maka akan terpendam sedikit demi sedikit, seiring berjalannya waktu. Karena kisah mereka hanya sekedar ulasan lisan (tutur tinular). Dan akhirnya kisah mereka terkubur bersama dengan batu nisannya juga. Maka, kita sebagai generasi sekarang, sudah waktunya untuk mengetahui asal-usul dari mana leluhur kita berasal dan apa saja kebijaksanaan yang mereka lakukan di masa lampau. Yang jelas, namanya hidup tidak semua harus sempurna. Baik dan buruk merupakan bagian dari perjalanan hidup setiap insan. Begitupun dengan kakek-nenek dan leluhur kita. Apakah kisahnya baik dan buruk. Cukup kebaikanlah yang dijadikan motivasi bagi keturunannya. Pola hidup kita jangan sama dengan pola hidup leluhur kita masa silam. Yang mungkin orangnya biasa-biasa saja, dan hanya menjadi rakyat biasa. Sehingga kisah mereka tidak tertulis di prasasti dan tembang. Dan juga anak mereka tidak menulis kisahnya. Mungkin, zaman dahulu sejarah hanya ditulis bagi para pemangku kekuasaan, karena minimnya sumber pengetahuan, dan rakyat hanya sedikit yang bisa membaca dan menulis. Jadi wajar saja, jika prasasti dan manuskrip hanya ditulis dalam keadaan resmi. Itulah kenapa dari zaman kerajaan Hindu Kutai Karta Negara sampai kerajaan Islam Mataram, kita hanya banyak membaca kisah para raja, kaum bangsawan dan seputar kerajaan. Kita jarang membaca di buku-buku pelajaran kisah tentang kebaikan, kearifan dan kebijaksanaan para petani desa, pedagang, nelayan, dan kaum buruh. Di zaman yang mayoritas manusia bisa membaca dan menulis ini, mari budayakanlah juga untuk menulis sesuatu yang ada di seputar kita, mulai dari biografi orang tua, leluhur dan sejarah kampungnya masing-masing. Karena sekali lagi, jika bukan kita yang mencatat, maka siapa lagi? Kisah kebijaksanaan mereka, akan menjadi keteladanan bagi kita dan keliarga, sehingga apa yang sudah ditulis akan bisa diwariskan dalam bentuk manuskrip. Bisa saja, semua orang, untuk membuat perpustakaan dan museum pribadi, yang isinya hanya diisi kisah keluarga, seperti buku nasab, kisah teladan, artefak, dan sebagainya. Hitung-hitung menulis dan membukukan kisah mereka, merupakan bentuk rasa syukur seorang anak atau cucu kepada leluhurnya. Karena keturunan yang baik adalah yang selalu mengenang kebaikan leluhurnya, menziarahi makamnya dan mendoakannya. ika berkenan, tulis semua nasihat-nasihat orang tua. Tempel di dinding ruang tamu, agar setiap kali membaca akan mengerti betapa mulianya orang tua bagi keluarganya. Jangan menjadi orang yang serba cuek terhadap mutiara yang terpendam. Karena kisah yang mati obor, dimulai dari rasa cuek mengetahui siapa asal usulnya dan malas mencatat biografi leluhurnya. Tidak perlu menutupi dan malu dari siapa kita berasal, apalagi dengan alasan takut sombong dan angkuh. Karena, khawatir itu semua hanya penyakit hati dan tipu daya setan. Orang yang hebat itu tidak terdikte oleh keadaan sosial dan budaya yang buruk S

Kiai Sholeh Darat

Jejaknya samar-samar bagi generasi kekinian. Tapi, nama KH Sholeh Darat selalu dirujuk sebagai salah satu maha guru para ulama Nusantara. Begitu rendah hatinya, KH Sholeh Darat baru mau menulis kitab tafsir setelah dibujuk-bujuk Raden Ajeng Kartini. Satu riwayat menyebutkan, Kiai Sholeh Darat dilahirkan di Desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar tahun 1820. Nama panggilan semasa kecilnya adalah Sholeh. Sholeh dibesarkan di dalam keluarga agamais yang cinta tanah air. Ayahnya adalah Kiai Umar, yang merupakan ulama cukup terpandang dan disegani di kawasan pantai utara Jawa. Kiai Umar juga tercatat seorang pejuang Perang Jawa (1825-1830), sekaligug orang kepercayaan Pangeran Dipenogoro. Kiai Umar beserta santri-santrinya ikut berperang melawan Belanda. Kepada ayahandanyalah, pertama-tama, Kiai Sholeh Darat belajar ilmu agama. Saat usianya mulai remaja, Sholeh Darat dikirim untuk berguru kepada Kiai M Syahid alias KH.Murtadho, seorang pengasuh Pesantren Waturoyo, Margoyoso Kajen, Daerah Karesidenan Pati. Pesantren tersebut hingga kini masih berdiri. Kiai M Syahid merupakan cucu Kiai Mutamakkin yang hidup semasa Paku Buwono II (1727-1749). Kepada Kiai M Syahid ini, Sholeh Darat belajar beberapa kitab fikih, di antaranya Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Minhajul Al-Qawim, Syarhul Khatib,Fathul Wahhab, dan lainnya. Setelah itu, Kiai Sholeh Darat berguru kepada Kiai Raden Haji Muhammad Salih Ibn Asnami Kudus. Kepadanya Kiai Sholeh Darat belajar Tafsir Al-Jalalain. Kiai Sholeh Darat juga sempat menjadi santri kalong di daerah Semarang. Tercatat, ia pernah belajar nahu-saraf kepada Kiai Ishak Damaran Semarang. Riwayat lain juga menyebutkan, ia belajar ilmu falak kepada Kiai Abu Abdillah Muhammad Bin Hadi Buguni, seorang mufti di Semarang. Juga mengaji kitab Jauhar Al-Tauhid dan Minhajul Abidin kepada Kiai Ahmad Bafaqih Ba’ahvi Semarang dan belajar kitab Al-Masail Al-Sittin kepada Syekh Abd Al-Ghani Bima Semarang. Di luar Semarang, Kiai Sholeh Darat juga sempat berguru kepada Kiai Ahmad Alim Bulus, Gebang, Purworejo. Kepadanya ia mempelajari ilmu tasawuf dan Tafsir Al-Quran. Oleh Kiai Ahmad Alim, Kiai Sholeh Darat diperbantukan di Zain al-Alim untuk mengasuh sebuah pesantren di Dukuh Salatiang, Desa Maron, Kecamatan Loana, Purworejo. Setelah belajar di beberapa daerah di Jawa, Kiai Sholeh Darat diajak ayahnya untuk menunaikan ibadah haji. Uniknya, keduanya singgah dulu beberapa bulan di Singapura. Sambil menanti izin resmi dan keberangkatan kapal, Kiai Umar dan Sholeh Darat juga sempat mengajar agama di sana. Seiring waktu, santrinya semakin banyak, terutama dari kalangan etnis Melayu dan Jawa. Tak lama, para santri ikut mengantarkan kepergian keduanya ke Tanah Suci. Selepas menunaikan ibadah haji, Kiai Umar wafat di Mekkah dan dimakamkan di sana. Kiai Sholeh pun menetap di Mekkah selama beberapa tahun untuk berguru kepada komunitas ulama jawi (Bilad al-Jawi), yakni komunitas para ulama dan santri yang berasal dari kawasan Asia Tenggara yang bermukim di Mekkah guna memperdalam ilmu agama. Selama berada di Mekkah, Kiai Sholeh Darat berguru kepada beberapa ulama yang masyhur kala itu. Mula-mula, Sholeh Darat belajar ilmu-ilmu akidah, khususnya kitab Umm al-Barabin (karya al-Sanusi) kepada Syekh Muhammad al-Maqri al-Mashri al-Makki. Selanjutnya, ia berguru kepada Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah. Ia adalah pengajar di Masjid al-Haram dan al-Nabawi. Kepadanya, Kiai Sholeh belajar fikih dengan menggunakan kitab Fath Al-wahhab dan Syarh al-Khatib, serta nahu dengan menggunakan kitab Alfiyah Ibn Malik. Di saat yang sama, ia juga belajar kitab Ihya Ulumuddin (karya Imam Ghazali) kepada Sayyid Ahmad Bin Zaini Dahlan dan Sayyid Muhammad Shalih Al-Zawawi Al-Makki. Lalu belajar kitab al-Hikam (karya Ibn ‘Atha’illah) kepada Syekh Ahmad Al-Nahrawi al- Mishri al-Makki, belajar kitab Fath Al-Wahhab dari Kiai Zahid dan syekh Umar al-syami, belajar kitab Syarh al-Tahrir kepada Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri. Kiai Sholeh Darat juga belajar Tafsir al-Quran kepada Syekh Jamal, seorang mufti mazhab Hanafiyyah di Mekkah. Dari beberapa gurunya di Tanah Suci tersebut, Kiai Sholeh mendapatkan “ijazah”. Ijazah dalam tradisi pesantren adalah pencantuman nama dalam suatu mata rantai (sanad) pengetahuan yang dikeluarkan oleh seorang guru kepada murid yang telah menyelesaikan pelajaran atas kitab tertentu, sehingga si murid dianggap menguasai dan dapat mengajarakan kepada orang lain. Ijazah ini hanya diberikan kepada murid-murid senior dan khusus pada kitab-kitab besar dan masyhur, semisal Fath al-Wahhab, Syarh al Khatib, dan Ihya Ulumuddin. Dari sini pulalah apa yang diperlajari Kiai Sholeh Darat dari kitab-kitab tersebut menjadi sumber inspirasi dan berpengaruh terhadap sebagian besar karya tulisannya, yang sebagian besar dicetak dalam tulisan pegon (tulisan Arab berbahasa Jawa). Sebelum kembali ke Tanah Air, Kiai Sholeh Darat diberi kehormatan mengajar di Tanah Suci untuk beberapa waktu. Setelah itu, diketahui Kiai Sholeh Darat mengajar di Pesantren Salatiga yang terletak di Desa Maron, Kecamatan Loana, Purwerejo. Pesantren ini didirikan sejak abad ke-18 oleh tiga orang sufi, masing-masing Kiai Ahmad Alim, Kiai Muhammad Alim, dan Kiai Zain al-Alim. Belakangan, Kiai Ahmad Alim mengasuh sebuah pesantren yang bernama al-Imam, di Desa Bulus, Kecamatan Gebang. Adapun, Kiai Muhammad Alim mengembangkan pesantrennya juga berada di Desa Maron, yang kini dikenal dengan Pesantren al-Anwar. Jadi, saat itu kedudukan Kiai Sholeh Darat adalah sebagai pengajar yang membantu Kiai Zaini al-Alim. Namun sampai detik ini penulis tidak mendapatkan informasi yang pasti mengenai sistem pengajaran yang ditularkan KH Sholeh Darat. Cuma dari beberapa bacaan, baik dari jurnal maupun manuskrip, diketahui bahwa KH Sholeh Darat selalu menerjemahkan kitab-kitab yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Madura dengan bentuk tulisan Arab Pegon, seperti Kitab Hikam dan lainnya. Dengan kitab-kitab hasil terjemahannya itulah KH Sholeh Darat mengajarkan berbagai ilmu kepada murid-muridnya. Di antara para tokoh yang pernah belajar kepada Kiai Sholeh Darat adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, Kiai R Dahlan Tremas (seorang ahli falak, w. 1329/1939), dan Kiai Amir Pekalongan. Bahkan, Raden Ajeng Kartini pernah menjadi santri Kiai Sholeh Darat. Berkat kegigihan Kartini-lah, Kiai Sholeh Darat bersedia menulis sendiri kitab tafsir Al-Quran. Kitab tersebut diberi judul Faidhur-Rohman, yang merupakan tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Ini menjadi taukid (penguat) bahwa metode penulisan dalam sistem pengajaran kepada santri sangat efektif dan harus dilestarikan. Oleh karena itu, jejak-jejak intelektual Islam justru muncul dalam bentuk naskah-naskah klasik keagamaan yang berisi berbagai pengajaran Islam, seperti tauhid, tafsir, akhlak, sastra arab, fikih, hingga tasawuf. (Muhammad Abdullah, hal 147).

SEJARAH MASJID ALUN-ALUN PATI

Kabupaten Pati kental dengan nuansa pendidikan Islam. Pondok-pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang tersebar di wilayah Pati. Hal ini menjadikan Kabupaten Pati menjadi rujukan ribuan santri dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan mancanegara, untuk menuntut ilmu agama. Semarak pendidikan Islam di Pati tak bisa dilepaskan dari para pendakwah yang mula-mula menyebarkan Islam di Bumi Mina Tani. Tokoh-tokoh yang diyakini sebagai waliyullah ini biasanya meninggalkan warisan berupa masjid yang dahulu mereka gunakan sebagai pusat syiar agama. Sebut saja Mbah Cungkrung yang mewariskan Masjid Baiturrohim Gambiran, yang merupakan Masjid pertama berdiri di Pati. Masjid Gambiran "Baiturrohim" Gambiran adalah nama dukuh yang berada di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati Jawa Tengah. Menurut sejarahwan diyakini bahwa Gambiran dahulu merupakan pusat syiar Islam di Bumi Mina Tani. Sejarahwan berteori bahwa Masjid Baiturrohim Gambiran dahulu merupakan masjid utama di Pati, sebelum akhirnya berpindah ke Masjid Agung Baitunnur di Alun-Alun Pati. Menurut sejarah dakwah Islam di Pati yang berpusat di Gambiran tidak terlepas dari sosok Mbah Cungkrung. Mbah Cungkrung diyakini sebagai waliyullah yang makamnya berada sekitar 30 meter di sebelah selatan masjid. Haul Mbah Cungkrung diperingati warga setempat setiap 1 Syuro.
Mbah Cungkrung nama aslinya tidak diketahui dengan jelas. Namun kata cungkrung diambil dari kata berbahasa Jawa, yakni ‘jungkrung’ yang berarti ‘sujud’. Nama Mbah Cungkrung diambil dari kebiasaan beliau sujud dalam shalat. Mbah Cungkrung diyakini merupakan murid dari Sunan Muria. Hal ini antara lain terlihat dari pola dakwah Mbah Cungkrung yang bercorak tasawuf. Sunan Muria wafat pada pertengahan abad 16, Mbah Cungkrung juga berdakwah pada kisaran masa itu. Masjid Baiturrohim Gambiran dibangun oleh Mbah Cungkrung sebagai pusat syiar agama. Oleh warga setempat masjid ini juga disebut sebagai Masjid Wali. Masjid Gambiran memiliki arsitektur kuno dengan atap limas bersusun seperti Masjid Agung Demak. Struktur atap disangga oleh empat saka dari kayu. Memang bangunan asli masjid ini terbuat dari kayu, sebelum kemudian direnovasi menjadi tembok. Penanda renovasi adalah sebuah prasasti bertuliskan aksara Arab Pegon yang terletak di atas pintu utama masjid. Dalam prasasti tersebut, disebutkan bahwa Masjid Gambiran direnovasi pada 1885 oleh Bupati Pati pada waktu itu, yakni Kanjeng Raden Aryo Candrahadinegoro. Dalam renovasi ini, mustoko atau kubah masjid berbentuk ngaron (tempat memasak dari tanah liat) diganti mustoko baru. Sedangkan yang lama dibawa ke daerah Tawung (Tawangrejo, Kecamatan Winong) oleh murid Mbah Cungkrung. Berdasarkan keterangan yang didapatkan dari KH Hishom, ulama dari Desa Tawangrejo, agama Islam yang berkembang di Winong dahulu berasal dari murid Mbah Cungkrung. Penanda “kekunoan” lainnya dari masjid ini, menurut Amal, ialah keberadaan kompleks makam keluarga penghulu, persis di sebelah utara masjid. Dilihat dari bentuk patok kuburannya, diperkirakan pemakaman tersebut telah ada sejak abad ke-16. Bukti lain bahwa dahulu Gambiran merupakan pusat Islam di Pati, ialah keberadaan pemakaman Islam kuno di Dukuh Gambiran RT 01 RW 05. Makam yang cukup padat, seluas hampir 2 hektare ini, menunjukkan bahwa Gambiran dulu kota dengan banyak penduduk, atau kalau sekarang disebut metropolitan. Ada keyakinan, penduduk berbondong-bondong meninggalkan, sehingga makam luas ini tidak digunakan lagi. Hanya penduduk lokal yang memanfaatkan sebagian kecil area makam. Selain itu dilihat dari patok-patok kuburan yang berukuran besar dan terbuat dari batuan andesit, pemakaman kuno ini diperkirakan dimanfaatkan warga pada abad 16 sampai 17. Diterangkan juga bahwa pusat Islam di Pati mulai berpindah sejak Masjid Agung Baitunnur berdiri pada 1845. Letaknya yang berada di barat pendopo menjadikan masjid ini sebagai masjid besar kabupaten. Pendirian masjid Agung Baitunnur membawa dampak besar. Para ulama Gambiran diboyong ke sana. Ada yang ditempatkan di Kauman, Saliyan, dan Kampung Mertokusuman. Ketika ulama-ulama Gambiran pindah ke Pati, masjid Baiturohim Gambiran mulai agak sepi. Namun, atas kebaikan Bupati pada waktu itu, 1885 masjid ini direnovasi. Meski kini Masjid Baiturrohim Gambiran bukan lagi masjid utama di Pati, jejak-jejak syiar Islam Mbah Cungkrung masih bisa ditemukan. Satu di antaranya warga Muslim Tawangrejo Kecamatan Winong mengakui Mbah Cungkrung sebagai leluhurnya. Setiap ada tahlil, nama Mbah Cungkrung disebut. Kemudian, saat peringatan haul Mbah Cungkrung di Gambiran, sejumlah penduduk dan perangkat Desa Tawangrejo ikut hadir. Meski semarak keagamaan sempat meredup saat ulama Gambiran hijrah ke Masjid Agung Baitunnur Pati, kini gairah keagamaan kembali bangkit. Di bawah naungan Yayasan Baiturrohim, di Gambiran berlangsung aktif pendidikan agama mulai dari TPQ,TK, Jamaah Yasin-Tahlil, sampai Pondok Pesantren.