Social Icons

SUNAN KALIJAGA

M. HARIWIJAYA

1. Pertobatan Brandal Lokajaya
Salah satu wali yang sangat terkenal bagi orang Jawa adalah Sunan Kalijaga. Ketenaran wali ini adalah karena ia seorang ulama yang sakti dan cerdas. Ia juga seorang politikus yang “mengasuh” para raja beberapa kerajaan Islam. Selain itu Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai budayawan yang santun dan seniman wayang yang hebat.
Di antara anggota Dewan Wali, Sunan Kalijaga merupakan wali yang paling populer di mata orang Jawa. Bahkan sebagian orang Jawa menganggab sebagai guru agung dan suci di tanah Jawa. Sunan Kalijaga mempunyai nama kecil Raden Sahid. Kapan tepatnya kelahiran Sunan Kalijaga pun menyimpan misteri. Ia diperkirakan lahir pada 1430-an, dihitung dari tahun pernikahan Kalijaga dengan putri Sunan Ampel. Ketika itu Sunan Kalijaga diperkirakan berusia 20-an tahun. Sunan Ampel, yang diyakini lahir pada 1401, ketika menikahkan putrinya dengan Sunan Kalijaga, berusia 50-an tahun (Solichin, 1977). Raden Sahid adalah putra Tumenggung Wilwatikta, Adipati Tuban. Tumenggung Wilwatikta adalah keturunan Ranggalawe yang sudah beragama Islam dan berganti nama Raden Sahur. Ibunya bernama Dewi Nawangrum.
Kisah masa muda Raden Sahid paling tidak ada dua versi. Versi pertama adalah yang menganggap bahwa pada dasarnya walaupun Raden Said suka mencuri dan merampok tapi bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk dibagikan kepada rakyat jelata. Sedangkan versi kedua adalah yang benar-benar melihat bahwa masa muda Raden Sahid adalah benar-benar perampok dan pembunuh yang jahat.
Menurut versi pertama lengkapnya adalah demikian. Pada waktu masih kecil Raden Sahid sudah disuruh mempelajari agama Islam oleh ayahnya di Tuban. Akan tetapi karena ia melihat kondisi lingkungan yang kontradiksi dengan ajaran agama itu, maka jiwa Raden Sahid memberontak. Ia melihat rakyat jelata yang hidupnya sengsara, sementara bangsawan Tuban berfoya-foya hidupnya. Pejabat kadipaten menarik upeti kepada rakyat miskin dengan semena-mena, pada prajurit kadipaten sewenang-wenang menghardik rakyat kecil. Oleh karena itu, Raden Sahid sangat gelisah hatinya (Admodarminto, 1955).
Raden Sahid kecil sudah punya solidaritas yang tinggi pada kawan-kawannya. Ia bahkan tak segan-segan masuk dan bergaul ke dalam lingkungan rakyat jelata. Ketika itulah ia tidak tahan lagi melihat penderitaan orang-orang miskin pedesaan. Maka pada waktu malam-malam, ia sering mengambili sumber bahan makanan dari gudang kadipaten dan memberikannya kepada rakyat miskin (Rahimsah, 2002:74).
Lama-lama tindakan Raden Sahid itu diketahui oleh ayahnya. Maka ia mendapat hukuman yang keras, yakni diusir dari istana. Ia akhirnya mengembara tanpa tujuan yang pasti. Ia kemudian menetap di hutan Jatiwangi. Di hutan itu ia meneruskan pekerjaannya sebagai berandal. Ia merampok orang-orang kaya yang pelit kepada rakyat kecil. Hasil rampokannya diberikannya kepada rakyat miskin (Rahimsah, 2002:78).
Sedangkan versi kedua melihat bahwa Raden Sahid benar-benar seorang yang nakal sejak kecil dan kemudian berkembang menjadi penjahat yang sadis. Ia suka merampok dan membunuh tanpa segan. Ia berjudi ke mana-mana. Setiap habis botoh-nya ia merampok kepada penduduk. Selain itu digambarkan Raden sahid adalah seorang yang sangat sakti. Karena saktinya beliau mendapat julukan berandal Lokajaya (Marsono, 1996).
Jalan hidup sunan yang satu ini tercantum dalam berbagai naskah kuno. Mudah dipahami kalau muatannya berbeda-beda. Begitu pula halnya dengan asal-usul Sunan Kalijaga. Ada yang menyatakan, asalnya dari kata jaga dan kali. Versi ini didasarkan pada penantian Lokajaya akan kedatangan Sunan Bonang selama tiga tahun, di tepi sungai. Ada juga yang menulis, kata itu berasal dari nama sebuah desa di Cirebon, tempat sunan Kalijaga pernah berdakwah.

2. Sufi Negarawan
Handoko (2001) mengatakan bahwa Sunan Kalijaga dilukiskan hidup dalam empat era dekade pemerintahan. Yakni masa Majapahit (sebelum 1478), Kesultanan Demak (1481-1546), Kesultanan Pajang (1546-1568), dan awal pemerintahan Mataram (1580-an). Begitulah yang dinukilkan Babad Tanah Jawi, yang memerikan kedatangan Sunan Kalijaga ke kediamanan Panembahan Senapati di Mataram.
Tak lama setelah itu, Sunan Kalijaga wafat. Jika kisah itu benar, Sunan Kalijaga hidup selama sekitar 150-an tahun! Tapi, lepas dari berbagai versi itu, kisah Sunan Kalijaga memang tak pernah padam di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa Tengah, hingga Cirebon. Terutama caranya berdakwah, yang dianggap berbeda dengan metode para wali yang lain. Ia dengan berani memadukan dakwah dengan seni budaya yang mengakar di masyarakat. Misalnya lewat wayang, gamelan, tembang, ukir, dan batik, yang sangat populer pada masa itu. Babad dan serat mencatat Sunan Kalijaga sebagai penggubah beberapa tembang, di antaranya Dhandhanggula Semarangan-paduan melodi Arab dan Jawa.
Sunan Kalijaga adalah seorang sufi yang ajaran-ajarannya diikuti oleh para penguasa waktu itu. Di antara ajaran Sunan Kalijaga adalah :
Aja seneng yen lagi darbe panguwasa, serik yen lagi ora darbe panguwasa, jalaran kuwi bakal ana bebendune dhewe-dhewe.
Aja mung kepengin menang dhewe kang bisa marakake crahing negara lan bangsa, kudu seneng rerembugan njaga katentreman lahir-batin.
Terjemahan :
Jangan hanya senang kalau sedang mempunyai kekuasaan, sakit hati kalau sedang tidak mempunyai kekuasaan, sebab hal itu akan ada akibatnya sendiri-sendiri.
Jangan hanya ingin menang sendiri yang dapat menyebabkan perpecahan negara dan bangsa, melainkan harus senang bermusyawarah demi menjaga ketentraman lahir-batin.

3. Tatal Masjid Demak
Sunan Kalijaga berperan dalam pendirian masjid pertama di tanah Jawa yakni Masjid Demak. Masjid ini sampai kini masih dikunjungi muslim dari seluruh nusantara. Masjid yang didirikan pada tahun 1477 ini menjadi pusat agama terpenting di Jawa dan memainkan peran besar dalam upaya menuntaskan Islamisasi di seluruh Jawa, termasuk daerah-daerah pedalaman. Kisah tatal untuk sokoguru dalam pendirian Masjid Agung Demak sendiri banyak bercampur dengan dongeng. Masih belum jelas, benarkah kesembilan wali berada di tempat ini dalam satu waktu (Handoko, 2001).
Nancy Florida dari Michigan University, USA, menulis tentang pendirian Masjid Demak sebagai berikut. The establishment of the Demak Mosque by the Walis as an heirloom, meant to embody in it their enduring legacy for Islamic kingship in Java. It was also a monument that would stand permanently as a concrete material site both for pilgrimage and of supernatural power. It was to be the sacred post of power of the realism of Java and, at the same time, a talisman, a pusaka, for the rulers of that realism (Djamil, 2000).
Djamil (2000), mengatakan bahwa Masjid Demak bukan saja sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ajang pendidikan mengingat lembaga pendidikan pesantren pada masa awal ini belu menemukan bentuknya yang final. Masjid dan pesantren sesungguhnya merupakan center of excellence yang saling mendukung dan melengkapi dalam membentuk kepribadian muslim. Sesungguhnya pula dakwah dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dalam sejarah dan ajaran dasar Islam. Karya-karya dan peninggalan Sunan Kalijaga di antaranya yaitu:
1. Sokoguru Masjid Demak yang terbuat dari tatal.
2. Gamelan Nagawilaga
3. Gamelan Guntur Madu
4. Gamelan Nyai Sekati
5. Gamelan Kyai Sekati
6. Wayang Kulit Purwa
7. Baju Takwa
8. Tembang Dhandhanggula
9. Kain Batik motif garuda
10. Syair puji-pujian pesantren
Babad Demak menyebutkan, Masjid Agung Demak berdiri pada 1477 M, berdasarkan candra sengkala lawang trus gunaning janma bermakna angka 1399 tahun Saka.

4. Sunan Kalijaga Sebagai Budayawan
Sunan Kalijaga mengajarkan sikap narima ing pandum yang diurainya menjadi lima sikap yakni rela, narima, temen, sabar dan budi luhur :
a. Rela
Orang yang memiliki sifat rela tidak mengharapkan keuntungan dari pekerjaannya. Ia juga tidak mengeluh dan merasa susah. Terhadap semua cobaan seperti sengsara, duka cita, fitnah, kehilangan harta dan sebagainya ia menganggapnya lumrah. Orang rila, tidak mempunyai keinginan akan penghormatan dan pujian, apalagi iri dengki. Orang bersih tidak mempunyai keterikatan dengan barang yang bersifat sementara, akan tetapi bukan berarti meninggalkan kewajiban hidup.
b. Narima
Orang yang memiliki sifat narima tidak mengharapkan hak milik orang lain dan tidak iri dengki dengan kesenangan orang lain. Narima itu banyak pengaruhnya terhadap ketentraman hati dan bukan berarti pemalas. Apa yang sudah terpegang disyukuri dan tidak terlalu merisaukan apa yang belum didapat. Orang yang narima itu untung hidupnya, dia menang dalam perubahan zaman karena ia punya pegangan batiniah yang kuat.
c. Temen
Temen itu bermakna setia kepada ucapannya dan memperjuangkan cita-citanya dengan sungguh-sungguh. Orang yang tidak menepati kata-kata dan idealismenya sama dengan membohongi diri sendiri. Sedangkan kata hati yang sudah diucapkan berati kebohongan yang disaksikan oleh orang lain.
d. Sabar
Semua agama mengajarkan kesabaran. Tuhan mencintai orang yang bersifat sabar. Sabar berarti momot, kuat iman, luas pengetahuan dan tidak picik pandangannya. Dia bersifat segara wasesa, yang maknanya berjiwa lapang seperti lautan luas. Kesabaran dapat diibaratkan jamu yang pahit sekali yang hanya kuat diminum oleh orang yang kokoh pribadinya. Namun jika ia kuat minum jamu itu akan membuat dirinya semakin kuat dan sehat.
e. Budi luhur
Manusia yang berbudi luhur adalah manusia yang ideal. Budi luhur berhubungan dengan perilaku dan sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan seperti penyayang, pengampun dan pemurah (Purwadi, 2002).
Kelima sifat itu sebenarnya bersumber dari ajaran agama Islam yakni : rela dari ridha atau ikhlas, narima dari qanaah, temen dari sifat amanah, sabar dari kata shabar, dan budi luhur adalah akhlakul karimah. Tentang budi luhur, kata “budi” berasal dari bahasa Sansekerta dan mempunyai arti “kemampuan”, atau “kecerdasan otak” (intelectual faculty) (Gonda, 1925: 56). Salah satu ciri satria utama adalah alus ing budi. Demikian pula budi pekerti luhur syarat untuk dikatakan sebagai manusia yang baik. Orang yang luhur ing pambudi, adalah orang yang bijaksana. Sedangkan orang yang asor bebudene tidak hanya orang yang bodoh belaka, akan tetapi juga berbahaya. Budi mempunyai arti yang luas yang meliputi seluruh pribadi manusia, yang menggambarkan individualitasnya, yang menjiwai segala aktivitasnya, sehingga menjadikan ia orang yang berbudi atau tidak berbudi (Supadjar, 1993: 37).

5. Jimat Kalimasada
Sunan Kalijaga menggubah beberapa lakon wayang dan di antaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada, Dewa Ruci, dan Petruk Dadi Ratu. Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat syahadat. Lakon Jimat Kalimasada inilah yang paling sering dia pentaskan. Dengan lakon ini Sunan Kalijaga mengajak orang-orang Jawa di pedesaan maupun di kota kaprajan daerah manapun untuk mengucapkan syahadat, dengan kata lain untuk masuk agama Islam. Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir. Bahkan kebiasaan kenduri pun jadi sarana syiarnya (Siswoharsoyo, 1957).
Sunan Kalijaga mengganti puja-puji dalam sesaji itu dengan doa dan bacaan dari kitab suci Al-Quran. Di awal syiarnya, Kalijaga selalu berkeliling ke pelosok desa. Menurut catatan Husein Jayadiningrat, Kalijaga berdakwah hingga ke Palembang, Sumatera Selatan, setelah dibaiat sebagai murid Sunan Bonang. Di Palembang, ia sempat berguru pada Syekh Sutabaris. Cuma, keberadaan Sunan Kalijaga di “Bumi Sriwijaya” itu tidak meninggalkan catatan tertulis. Oleh Syekh Maulana Magribi, Kalijaga diperintahkan balik ke Jawa. Dalam Babad Cirebon, Sunan Kalijaga tiba di kawasan Cirebon setelah berdakwah dari Palembang. Konon, Kalijaga ingin menyusul Sunan Bonang, yang pergi ke Mekah (Handoko, 2001).
Babad Cirebon menulis, Sunan Kalijaga menetap beberapa tahun di Cirebon, persisnya di Desa Kalijaga, sekitar 2,5 kilometer arah selatan kota. Pada awal kedatangannya, Kalijaga menyamar dan bekerja sebagai pembersih Masjid Kraton Kasepuhan. Di sinilah Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Gunung Jati .
Kisah pertemuan Sunan Gunung Jati dengan Sunan Kalijaga tersebut diceritakan oleh Handoko (2001) demikian : Sunan Gunung Jati sengaja menguji Kalijaga dengan sebongkah emas. Emas itu ditaruh di padasan, tempat orang mengambil wudhu. Kalijaga sendiri tak kaget mengingat ajaran Sunan Ampel, "ojo gumunan lan kagetan " (jangan mudah heran dan terkejut).
Ia "menyulap" emas menjadi batu bata, dan menjadikannya tempat mena-
ruh bakiak bagi orang yang berwudu. Giliran Sunan Gunung Jati yang takjub. Ia pun "menganugerahkan" adiknya, Siti Zaenab, untuk diperistri Sunan Kalijaga. Hanya beberapa tahun Sunan Kalijaga dikisahkan menetap di Cirebon.
Di Kadilangu, daerah Demak, Sunan Kalijaga menetap lama hingga akhir hayatnya. Kadilangu merupakan tempat Sunan Kalijaga membina kehidupan rumah tangga. Istri yang disebut-sebut hanyalah Dewi Sarah, putri Maulana Ishaq. Dakwahnya berlanjut dari daerah pesisir utara Demak hingga daerah-daerah pedalaman .
Dewi Sarah memberikan tiga anak kepada Sunan Kalijaga. Satu di antaranya Raden Umar Said, yang kelak bergelar Sunan Muria. Sunan Muria dan Sunan Kudus tergolong satu aliran dalam berdakwah dengan Sunan Kalijaga. Metode dakwah aliran Kalijaga itu amat keras ditentang Sunan Ampel, mertuanya, dan Sunan Drajat, kakak iparnya (Suripan, 2001).

6. Dewi Rasa Wulan
Sunan Kalijaga adalah salah seorang dari Wali Sanga. Wali ini di dalam melakukan Islamisasi Jawa, mempergunakan seni, khususnya seni wayang. Menurut etimologi rakyat, nama Kalijaga berasal dari bahasa Jawa kali atau sungai, dan jaga atau menjaga, sebab wali ini suka bertapa di sungai. Pengertian ini umumnya disebut di dalam babad, misalnya: Babad Banten (Djajadiningrat, 1983), Babad Tanah Jawi (Olthof, 1941), Babad Tanah Djawi, jilid II (Balai Pustaka, 1939), dan Babad Demak (Admodarminto, 1955).
Di dalam hubungan cerita tentang kentrung, misalnya di dalam cerita Jaka Sahid yang dituturkan oleh Dalang Seni dan Markam, atau di dalam cerita Jaka Tarub yang dituturkan oleh Dalang Rajikan, riwayat Sunan Kalijaga lebih dekat pada cerita babad. Hal ini sejajar dengan cerita-cerita kethoprak, misalnya di dalam rekaman kaset lakon Syekh Siti Jenar Gugur yang dimainkan oleh Kethoprak Trisna Budaya dari Pati pimpinan Kecik Juarto (Suripan, 2001).
Di dalam masyarakat pedesaan terdapat banyak sekali cerita-cerita lisan yang berkaitan dengan Sunan Kalijaga. Misalnya, perihal: Sunan Kalijaga membuat tiang Mesjid Demak dari tatal (potongan-potongan kayu kecil); Sunan Kalijaga mempertemukan puncak Masjid Demak dengan Kabah; Sunan Kalijaga mencipta tembang ilir-ilir, Sunan Kalijaga mencipta seni batik yang bermotif gambar burung; Sunan Kalijaga menciptakan tembang macapat metrum Dhandhanggula; Sunan Kalijaga mencipta Gong Sekatèn; Sunan Kalijaga membuat wayang untuk sarana dakwah; Sunan Kalijaga menjadi dalang; dan Sunan Kalijaga menghidupkan bangkai ikan milik seorang petani. Dan bahkan, menurut Dalang Sutrisno, kentrung pun ciptaan Sunan Kalijaga. Kepopuleran semacam ini memang tidak bisa dibantah, sebab banyak mantra Jawa yang menyebut nama Sunan Kalijaga (Tjandrasasmita, 1984).
Adapun syair tembang Ilir-ilir karya Sunan Kalijaga tersebut adalah demikian:
Ilir-ilir

Ilir-ilir tandure wis sumilir
tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar
bocah angon penekna blimbing kuwi
lunyu-lunyu ya penekna kanggo masuh dodotira
dodotira kumitir bedhah ing pinggir
dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane


Terjemahan :

Ilir-ilir

Ilir-ilir tanaman sudah bersemi
tampak menghijau ibarat penganten baru
wahai penggembala panjatlah blimbing itu
meski licin panjatlah untuk mencuci kain
kain yang sedang robek pinggirnya
Jahitlah dan tamballah untuk
menghadap nanti sore
mumpung bulan terang dan lebar tempatnya.

Lagu Ilir-ilir di atas memberi rasa optimis kepada seseorang yang sedang melakukan amal kebaikan amal itu berguna untuk bekal di hari akhir. Kesempatan hidup di dunia itu harus dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan jangan hendak membunuh nanti akan berganti dibunuh karena semua ada balasannya.
Pesan tentang asal-usul dan tujuan hidup demikian selalu dipegang teguh oleh penganut mistik kejawen. Apalagi bagi guru Sunan Kalijaga juga pernah memberikan wejangan serupa yang tersimpul dalam tembang dhandhanggula sebagai berikut :
Urip iku neng donya tan lami
Upamane jebeng menyang pasar
Tan langgeng neng pasar bae
Tan wurung nuli mantuk
Mring wismane sangkane nguni
Ing mengko aja samar, sangkan paranipun
Ing mengko padha weruha
Yen asale sangkan paran duk ing nguni
Aja nganti kesasar.

Terjemahan :
Hidup di dunia ini tidak lama
Seperti jika kamu pergi ke pasar
Tidak akan di pesar terus
Pastilah akan kembali juga
Ke rumah asalnya
Maka jangan sampai keliru
Maka ketahuilah
Ilmu sangkan paran
Agar jangan sampai kesasar

Pesan mistik tembang tersebut menghendaki bahwa hidup di dunia ini tidak lama, ibarat manusia pergi ke pasar, akan segera kembali ke rumah asalnya, karena itu jangan sampai ragu-ragu terhadap asal-usul, agar jangan sampai salah jalan. Pesan ini menunjukan bahwa manusia hidup di dunia sekedar mampir ngombe (singgah untuk minum), karena suatu ketika akan kembali kepada Tuhan. Tuhan adalah tumpuan sangkan paraning dumadi (Endraswara, 2003, 34).

7. Ulama Kerakyatan
Berdasarkan legenda-legenda yang dikumpulkan dari masyarakat pedesaan, berdasarkan cerita-cerita kentrung yang dituturkan oleh dalang kentrung, dan berdasarkan babad-babad lokal, misalnya Babad Demak Pesisiran (Hutomo, 1984), Babad Tuban (manuskrip tanpa nama) dan Suluk Syekh Malaya (Marsono, 1996), maka oleh Suripan (2001) disusun suatu biografi Sunan Kalijaga yang bersifat kerakyatan, maksudnya sebagaimana diterima oleh orang desa, sebagai berikut: Raden Sahid, anak Bupati Tuban Wilwatikta, sangat nakal dan suka sekali bermain judi.
Bupati Tuban Wilwatikta tidak menyukai perbuatan anaknya. Untuk mengurangi kenakalan anaknya, dia mempunyai rencana mencarikan jodoh Raden Sahid. Tetapi, Raden Sahid menolak dan bahkan lantas minggat dari Tuban. Adiknya, Dewi Rasawulan, menyusul kakaknya, namun tidak menjumpai kakaknya. Dia malahan hamil secara gaib. Anaknya diberi nama Jaka Tarub, atau Kidang Telangkas. Raden Sahid, dengan nama samaran Lokajaya, merampok di hutan. Ketika dia merampok Sunan Bonang, bertekuk lutut, sebab Sunan Bonang sangat sakti. Dia lalu berguru pada Sunan Bonang. Setelah mendapat sedikit ilmu dari Sunan Bonang, dia pulang ke Tuban, tetapi ayahnya menolak kehadirannya. Oleh Sunan Bonang dia disuruh bertapa. Setelah bertapa, dia diberi pelajaran ilmu agama oleh Sunan Bonang di tengah laut di dalam sebuah perahu berwarna putih. Perahu itu pemberian Nabi Khidir.
Setamat Sunan Bonang memberi pelajaran pada Raden Sahid, lalu memberi gelar Sunan Kalijaga. Sejak itu kekallah gelar Sunan Kalijaga pada Raden Sahid. Pada waktu para wali mendirikan Masjid Demak, Sunan Kalijaga membuat tiang tatal, dan setelah Masjid Demak berdiri, mempertemukan puncak Masjid Demak dengan Kabah. Sunan Kalijaga menyiarkan agama Islam ke desa-desa sekitar Demak dan di tempat-tempat lain dengan mendalang wayang kulit, termasuk menjadi tukang kentrung. Di samping menjadi dalang dan tukang kentrung, di banyak membantu petani miskin. Dia sangat dihormati dan disegani oleh rakyat desa, para petani, sebab ia tidak memusuhi mereka, sehingga hal ini melahirkan ungkapan tabek-tabek Sunan Kali di dalam bahasa Jawa pesisiran. Setelah Sunan Kalijaga wafat, dimakamkan di Kadilangu, Demak.
Beberapa episode biografi Sunan Kalijaga itu jika dibandingkan dengan beberapa episode cerita kentrung Rasawulan atau Sarahwulan tampak ada beberapa kesamaan. Persamaan itu sebagai berikut: Lukisan kenakalan Juwarsah sebagai penjudi di dalam cerita Rasawulan, lukisan ini persis sama dengan lukisan kenakalan Raden Sahid. Baik Juwarsah maupun Raden Sahid bertapa di dalam air. Baik Juwarsah maupun Raden Sahid ditolong oleh Nabi Khidir.
Dengan adanya persamaan itu, maka kata “penjudi”, “Nabi Khidir”, dan “Antakusuma” menjadi bukti kuat bahwa cerita Rasawulan berfungsi untuk mengingatkan orang pada Sunan Kalijaga. Tokoh Juwarsah di dalam angan-angan pujangga cerita kentrung identik dengan tokoh Sunan Kalijaga. Begitu pula dengan pendengar cerita ini. Resepsi mereka telah dituntun oleh legenda-legenda Sunan Kalijaga yang pernah mereka dengarkan. Dengan begitu dalam hal ini ada kaitannya dengan apa yang dinamakan hipogram (Culler, 1981) dan intertekstualitas (Culler, 1975; Teeuw, 1984).
Keempat perwujudan hipogram yang telah disebutkan, rupanya, hipogram yang terdapat di dalam cerita Sarahwulan (yang berasal dari legenda Sunan Kalijaga) ialah hipogram macam keempat, yaitu ekserp. Adapun intisari unsur yang diambil oleh pujangga pencipta cerita kentrung ialah: pertama, kenakalan Raden Sahid (Sunan Kalijaga) waktu muda; kedua, Raden Sahid (Sunan Kalijaga) bertapa di air; ketiga, Raden Sahid (Sunan Kalijaga) ditolong Nabi Khidir; dan keempat, Raden Sahid (Sunan Kalijaga) mendapat hadiah baju Antakusuma (Berg, 1938).
Jadi, cerita Rasawulan merupakan cerita selubungan (mantel-verbaal), artinya cerita yang menyelubungi cerita yang sesungguhnya. Di dalam kesusastraan Jawa Kuna hal seperti itu ada contoh menarik. Berg (1938) mengatakan bahwa kakawin Arjunawiwaha karya Empu Kanwa merupakan pelukisan biografi Raja Erlangga (Airlangga), sebab riwayat Arjuna di dalam cerita itu mirip sekali dengan riwayat Raja Erlangga. Pendapat Berg ini didukung oleh Zoetmulder, dengan mengatakan bahwa pendapat Berg memang tepat (Zoetmulder, 1977).
Adapun intisari Kekawin Arjunawiwaha atau cerita Begawan Ciptowening sebagai berikut : Sang Arjuna pergi bertapa ke hutan untuk mencari senjata-senjata sakti. Setelah mengalami berbagai godaan, baik dari para bidadari maupun raksasa, Arjuna memperoleh senjata-senjata yang diinginkannya. Kemudian, Arjuna diminta tolong oleh para dewa untuk membunuh raja raksasa yang bernama Niwatakawaca, setelah diketahui rahasia kematiannya oleh Arjuna, dikalahkan oleh Arjuna. Sebagai hadiahnya, Arjuna diberi kesempatan oleh para dewa untuk tinggal di surga dan beristerikan beberapa bidadari. Akan tetapi, setelah agak lama tinggal di surga, Arjuna teringat pada saudara-saudaranya yang tinggal di bumi. Untuk melepas rindunya, Arjuna lalu diantarkan pulang ke bumi untuk berkumpul kembali dengan para saudaranya (Poerbatjaraka, 1952, Zoetmulder, 1977).
Dilihat dari sini, maka cerita Rasawulan, seperti halnya kakawin Arjunawiwaha, dapat juga disebut sebagai “sastra puja”, artinya kesusastraan yang dipergunakan untuk memuja dan menghormati seorang tokoh. Di dalam cerita Rasawulan tokoh yang dipuja oleh sang pujangga cerita kentrung ialah tokoh Sunan Kalijaga. Dan pemujaan itu tidak hanya terbatas pada batang tubuh cerita, tetapi diabadikan pula di dalam mantra bagian penutup cerita. Mantra itu antara lain berbunyi: “Tunane Kalijaga/sing njaga bale pomahe”, artinya “Sunan Kalijaga penjaga rumah tangga kita”. Kata tunane di sini salah ucap, adapun yang benar sunane (Suripan, 2001).
Penyebutan demikian juga terdapat di dalam cerita Dewi Pertimah yang dituturkan oleh Dalang Markam. Pada waktu dalang mendeskripsi alat-alat rumah tangga beserta makna filsafatnya disebutkan bahwa “deringane jenenge waluh kenthi, tinggalanne Ki Ageng Sunan Kali”, artinya “tempat penyimpanan beras bernama waluh kenthi (labu yang berbentuk seperti kendi yang terbuat dari tanah liat), warisan dari Sunan Kalijaga”. Dikatakan warisan sebab menurut legenda yang beredar di masyarakat desa, Sunan Kalijaga pernah membagi-bagikan alat-alat pertanian dan rumah tangga kepada para petani (Hasyim, 1974).
Jika cerita Rasawulan dilihat sebagai “sastra puja”, maka pujangga cerita Rasawulan merupakan pewaris dan penerus ajaran Sunan Kalijaga. Hal inilah, barangkali, yang menimbulkan adanya makam dalang kentrung yang dikeramatkan orang desa. Misalnya, makam keramat Mbah Endang di desa Bungus, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro. Dia dianggap suci karena ajarannya seperti ajaran Sunan Kalijaga (Suripan, 2001).
Di dalam hubungan sejarah dakwah Islam di Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Jawa, Arnold (1930) mengingatkan bahwa “penduduk Jawa Tengah masih lama menganut kepercayaan berhala, dan kemajuan ke arah selatan berjalan dalam beberapa abad”. Salah seorang yang berjasa menembus ke arah selatan dengan cara damai ialah Sunan Kalijaga. Buktinya, di daerah selatan ada kepercayaan penduduk bahwa pencipta gamelan sekaten ialah Sunan Kalijaga.
Menurut Suripan (2001) cerita Rasawulan itu sendiri sebenarnya juga berisi materi dakwah. Di dalam cerita ini terdapat empat tataran seperti disebut orang di lingkungan dunia mistik Islam. Jelasnya: Pertemuan antara Juwarsah dengan Rasawulan pada tahap pertama di Desa Wandhansili, melambangkan tataran syariat; Pertemuan antara Juwarsah dengan Rasawulan pada tahap kedua di Negara Laraskandha, melambangkan tataran tharikat; Pertemuan antara Juwarsah dengan Rasawulan pada tahap ketiga di puncak gunung, yaitu setelah Juwarsah hidup kembali dari kematiannya, melambangkan tataran hakikat, Pertemuan antara Juwarsah dengan Rasawulan pada tahap keempat di Negara Rum, melambangkan tatanan makrifat.
Dilihat dari sini maka unsur bentuk dan isi cerita Rasawulan sangat selaras. Jika begitu halnya, cerita Rasawulan di lingkungan kesusastraan kentrung merupakan “cerita sakral” atau “kesusastraan sakral”. Jadi, dengan tidak adanya cerita ini di dalam perbendaharaan cerita dalang-dalang kentrung di tempat lain, ini berarti bahwa cerita ini hanya diperbolehkan dituturkan oleh dalang tertentu, atau mungkin merupakan perbendaharaan cerita baru yang belum sempat tersebut luas.
Masyarakat Tuban sebagai pemilik tokoh Sunan Kalijaga, kiranya, mempunyai kewajiban mengenang jasa-jasa serta meneruskan tradisi yang diciptakan oleh tokoh ini. Karena itu ungkapan kaya riwayate Sunan Kalijaga dhek sengen, artinya, “seperti sejarah hidup Sunan Kalijaga dahulu kala”, sering terdengar di kalangan orang desa, terutama para pencuri kayu jati setelah tobat, dan kemudian menjadi pemeluk agama Islam yang taat. Mereka disebut nyantri, artinya menjadi golongan santri. Dan cerita Rasawulan termasuk salah satu cerita untuk menyantrikan orang-orang desa di daerah Tuban yang tinggal di sekitar hutan jati, terutama di Desa Bate, Kecamatan Bangilan dan sekitarnya (Suripan, 2001).
Suripan (2001) memandang cerita Rasawulan sebagai suatu cerita yang mengandung materi dakwah, atau sebagai materi ajaran moral, seperti telah dikemukakan di atas. Bagi pengarang Jawa, bukan hanya keseluruhan cerita yang mengandung pasemon, tetapi nama pelaku cerita pun kadang-kadang mengandung pasemon. Pasemon, atau pengandaian seperti itu juga terdapat di Pulau Sumatera.
Menurut Soebardi (1975), Hamzah Fansuri membuat dua pengandaian tentang tataran syariat, tharikat, hakikat, dan makrifat di dalam dua buah bukunya. Yang pertama diandaikan seperti perahu, dan yang kedua diandaikan seperti buah kelapa. Di dalam kitab Sharab al Asyikin, kata Soebardi, Hamzah Fansuri mengandaikan syariat seperti lunas perahu, tharikat seperti geladak, hakikat seperti muatan perahu, dan makrifat seperti keuntungan di dalam berdagang. Di dalam Asrar al Arifin, kata Soebardi selanjutnya, Hamzah Fanzuri mengandaikan syariat seperti serabut kelapa, tharikat seperti tempurung kelapa, hakikat seperti daging kelapa, makrifat seperti minyak kelapa.
Pengandaian Hamzah Fansuri itu jika diterapkan pada cara berpikir orang Jawa, maka cerita Rasawulan dapat diandaikan sebagai “buah kelapa”, yaitu sesuatu yang bulat dalam unsur-unsurnya saling membentuk kesatuan. Pertemuan pertama, kedua, ketiga, dan keempat Juwarsah dengan Rasawulan terjadi berurutan dan bergantian. Alur cerita seperti ini merupakan alur cerita tradisional yang harus dipatuhi oleh pencerita. Pelanggaran terhadap aturan ini akan dianggap suatu kesalahan atau penyimpangan. Jadi, untuk memperoleh minyak kelapa (makrifat), terlebih dulu orang harus membuang serabut, tempurung dan mengolah daging kelapa. Artinya, orang tidak boleh langsung ke tataran makrifat sebelum melalui tataran syariat, tharikat dan hakikat (Suripan, 2001).
Sri Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama menye¬butkan peristiwa-peristiwa puncak makrifat sebagai berikut :

Sapantuk wahyuning Allah,
gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
bakat mikat reh mangukut,
kukutaning jiwangga,
kang mangkono kena ingaran wong sepuh,
liring sepuh sepi hawa,
awas roroning atunggal.

Tan samar pamoring sukma,
sinuksmaya winahya ing ngarepi,
sinimpen telenging kalbu,
pambukaning warana,
tarlen saking layap liyeping ngalnyap,
pindha pesating sumpena,
sumusup ing rasa jati.

Sejatine kang mangkana,
wus kahanan nugrahaning Hyang Widhi,
bali alaming asuwung,
tan karem karameyan,
ingkang sipat wisesa winisesa wus,
mulih mula-mulanira,
mulane wong anom sami.
(pupuh Pangkur, pada 1-3)

Terjemahan :

Orang siapa mendapatkan wahyu Illahi,
akan berkilau cemerlang dalam celah ilmu makrifat,
menguasai masalah tapa brata,
mengendapkan jiwa-raga,
itulah dinamakan orang sepuh,
sepuh adalah sepi hawa nafsu,
waspada anasir Dwitunggal.

Tidak khawatir terhadap kemanunggalan suksma,
merasuk sanubari dalam sunyi sepi,
terukir dalam kalbu,
terbukanya tirai penghalang,
tak lain adalah sada antara tidur dan juga,
mirip luncuran impian,
meresap dalam rasa sejati.

Sungguh yang demikian,
telah mendapat anugrah: lelaki,
kembali ke alam sunyi,
tak terpikat nikmat duniawi,
mampu menguasai diri pribadi,
kembali ke fitrah semula,
begitulah buat para pemuda.

Filsafat ketuhanan dalam Sunan Kalijaga ada kemirip¬an dengan ajaran tasawuf Ibnu Arabi. Ibnu Arabi memberi tamsil bahwa cahaya hanya milik matahari, namun cahaya itu dipinjamkan kepada makhluk bumi. Hubungan antara Tuhan dengan alam ibarat cahaya dan kegelapan. Karena wujud milik Tuhan saja, maka alam (ketiadaan) adalah mi¬lik alam (Afifi, 1989: 21).
Hakikat Tuhan dalam Serat Walisanga disebut Hyang Suksma atau jiwa semesta yang bersifat spiritual. Hyang Suksma adalah wujud ketuhanan yang ti¬dak berbentuk, tak nampak, dan hanya ditemukan oleh orang yang berhati suci dan waspada (Waston, 1997: 73). Hyang Suksma adalah wujud tertinggi dari segala yang ada. Pramana sebagai penampakan dari Hyang Suksma ber¬tempat tinggal dalam tubuh manusia (Soebardi, 1975: 50). Pramana dalam kenyataan adalah pernyataan diri dari ha¬kikat Tuhan (Zoetmulder, 1985: 210).
Pramana adalah ma¬ni¬festasi dari Hyang Suksma yang ada karena Dzatnya sen¬diri dalam entitasnya. Wujudnya mustahil dari tiada. Hyang Suksma mewujudkan segala sesuatu. Dia adalah wu¬jud absolut atau al-wujud al mutlak atau wujud tertinggi (Waston, 1997: 75).
Jika orang langsung ke tataran makrifat, jelas ajaran ini bukan ajaran Sunan Kalijaga, tetapi ajaran mistik Syekh Siti Jenar yang dianggap salah oleh para wali sembilan. Ajaran demikian itu tidak disetujui oleh Sunan Kalijaga, sebab dia termasuk salah seorang wali sembilan tersebut. Ketidaksetujuan Sunan Kalijaga, juga para wali lain, di akhir cerita Syekh Siti Jenar dilambangkan dengan Syekh Siti Jenar dipenggal kepalanya oleh Sunan Kalijaga. Atau, dilambangkan seperti nasib Sunan Panggung yang mati di makan api (Soebardi, 1975). Cerita demikian itu juga beredar di masyarakat pedesaan. Tetapi, cerita Sunan Kalijaga memenggal kepala Syekh Siti Jenar tidak mempengaruhi citra baik orang pedesaan terhadap tokoh Sunan Kalijaga, sebab Syekh Siti Jenar itu bukan manusia sejati, tetapi cacing yang mengubah diri menjadi manusia (Suripan, 2001).
Di dunia pewayangan, cerita seperti Rasawulan dapat disebut lakon pasemon. Yang disebut lakon pasemon ialah cerita yang menggambarkan suatu peristiwa yang benar-benar pernah terjadi di masyarakat Jawa. Menurut Sajid (1971), cerita wayang yang mengandung pasemon ialah lakon Swargabandhang, Rajamala, Mustakaweni, Petruk Dadi Ratu, Gilingwesi, Wijanarka, Suryaputra Maling, dan Kresna Kembang.
Lakon-lakon itu sebenarnya, bukan hanya mengandung pelukisan atau penggambaran peristiwa, tetapi juga mengandung sindiran. Dilihat dari kepentingan ini, pada zaman sekarang, cerita-cerita itu kurang fungsional, kecuali sebagai cerita wayang yang dipertunjukan untuk hiburan, atau mungkin, diberi fungsi baru. Hal ini berbeda dengan cerita Rasawulan. Tokoh Sunan Kalijaga yang diperankan oleh Juwarsah, di dalam legenda-legenda, tokoh ini masih dikenal oleh rakyat pedesaan (Suripan, 2001).
Wayang bagi Sunan Kalijaga bukan semata-mata pertunjukan cerita, tetapi dimanfaatkan betul sebagai sarana pendidikan masyarakat. Sebagai dalang, Sunan Kalijaga sering memberikan pesan sebagai berikut :
Sing sapa ora gelem gawe becik marang liyan, aja sira ngarep-arep yen bakal oleh pitulungan ing liyan.
Wong ala samangsa kuwasa aja dicedhaki, sebab mbilaheni, saya mundhak angkara murkane, lan meneh bakal dienggo srana menangake kang ala mau.
Wong ala iku lamun kuwasa banjur sawiyah-wiyah nguja hawa napsune, lan uga ngagung-agungake penguwasane, mula aja nganti wong ala bisa nyekel penguwasa.
Wong kang rumangsa nindakake panggawe kang kurang prayoga, nanging emoh mareni, iku aja dicedhaki, mundhak nulari.
Wong ala yen bisa kuwasa, kang ala iku diarani becik, kosok baline yen wong becik kang kuwasa, kang becik iku kang ditindakake.

Terjemahan :
Barang siapa tidak mau berbuat baik terhadap orang lain, janganlah mengharap akan mendapat pertolongan orang lain.
Orang jahat kalau berkuasa jangan didekati, sebab berbahaya; ia akan tambah angkara murkanya, lagipula engkau akan dipakai sebagai sarana untuk memenangkan kejahatan itu.
Orang jahat kalau berkuasa akan bertindak sewenang-wenang, melampiaskan hawa nafsunya dan membanggakan kekuasaannya. Oleh karena itu jangan sampai ada orang jahat memegang kekuasaan.
Orang yang merasa menjalankan pekerjaan yang tidak sepantasnya, tetapi tidak mau mengakhiri, jangan didekati, agar tidak ketularan.
Orang yang jahat kalau dapat berkuasa, segala yang jelek dikatakan baik, sebaliknya kalau orang baik-baik yang berkuasa, maka hal-hal yang baiklah yang dijalankan.

8. Sunan Kalijaga Guru Bangsa
Ki Siswoharsoyo dalam Serat Guna Cara Agama mengatakan bahwa Sunan Kalijaga, dalam kaitannya dengan kebudhaan dan keislaman, pernah mengajukan usul pada rapat para wali. Isi usul antara lain seperti berikut: Usaha untuk merubah kuatnya pendirian rakyat yang masih tebal kepercayaannya terhadap agama Budha, agar supaya mau memeluk agama Islam, harus diusahakan dengan cara yang begitu rupa, sehingga hatinya tetap senang dan terbuka.
Cara-cara usaha yang baik yang disukai oleh rakyat itu harus seiring dengan tata cara rakyat banyak, yang bertalian dengan kepercayaan agama mereka yang lama (Budha). Ajaran keislaman yang disampaikan kepada rakyat, harus dimulai sedikit demi sedikit. Sehingga mereka merasa gampang dan ringan mengamalkan agama Islam. Mengamalkan Rukun Islam yang lima, hal itu (syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji) walaupun baru syariat namanya, tetapi bagi orang yang baru mendengar sudah dirasa berat. Kalau dipaksa harus mengamalkan seluruhnya, malah menyebabkan enggan masuk Islam. Oleh karena itu seyogyanya dimulai dengan membaca kalimat syahadat dulu, asal sudah mau mengucapkan, dan disertai dengan rasa ikhlas hati, sudah bisa dinamakan masuk Islam. Percaya kepada khalifahnya, tunduk pada aturan-aturannya yang menuju kepada kemakmuran negara. Walaupun tujuan mengislamkannya itu agar mereka mau melakukan syariat, tharikat, hakikat sampai makrifat, tetapi itu cukup dikemudiankan. Tidak usah diusahakan benar oleh para mubaligh. Jika ummat sudah cinta kepada hakikat agama, tentu akan berusaha sendiri mencari mubaligh atau guru yang alim.
Adapun tata-cara yang menjadi kepercayaan agama lama yang harus dirubah menurut Sunan Kalijaga ada 3 hal: Bab samadi, sebagai puji mengheningkan cipta itu mengandung maksud untuk mencari sasmita dan berita batin mengenai hal-hal yang sudah lewat dan yang akan datang. Itu harus diusahakan agar berubah menjadi shalat wajib. Bab sesaji dan kekutug atau membakar kemenyan, itu dengan maksud menyajikan kebaktian kepada lelembut, yakni makhluk-makhluk halus yang gaib seperti jin dan setan agar membantu maksud serta keinginannya, dan terutama jangan hendaknya menggoda dan mengganggu rakyat setempat. Hal ini sedikit demi sedikit harus dirubah sehingga menjadi tata cara pemberian sedekah kepada fakir miskin, tetangga dekatnya, sanak keluarga, famili dan sebagainya.
Bab keramaian upacara tradisi keagamaan. Pemeluk agama yang lama jika mengadakan peralatan perkawinan,yang kaya membuat keramaian meniru dewa yang dianutnya, misalnya :
a. Upacara atau hiasan tumbuh-tumbuhan serta kembar mayang yang diatur sebagai hiasan dalam upacara perkawinan. Itu yang ditiru petamanan pohon klepu dewa daru.
b. Suara gamelan yang dipukul oleh para niyaga itu meniru gamelan lokananta di kayangan.
c. Wanita menari sambil sesindhenan atau menyanyi menurutkan irama gamelan, itu yang ditiru tarian waranggana mengelu-elukan datangnya para dewa.
d. Pria yang menanggapi tarian waranggana, yang diikuti oleh yang lain-lain yang kemudian dinamai tayuban, itu yang ditiru adalah gerak kedatangan para dewa.
e. Tatacara demikian itu oleh Islam, terang sekali hukumnya: musyrik yang berarti menduakan Tuhan dan haram yang artinya dilarang untuk dikerjakan. Oleh karena itu sedikit demi sedikit harus diusahakan untuk dihilangkan. Walaupun begitu, usahanya harus disertai kebijaksanaan sehingga dapat membuka hati rakyat banyak (Siswoharsoyo, 1957).
Tata cara yang ada hubungannya dengan kepercayaan pemeluk agama lama tadi (semadi, sesaji, keramaian), apabila justru digunakan alat penerangan dengan cara yang bijaksana, artinya kekeliruan itu diluruskan dengan perlahan-lahan, maka rakyat lekas sekali bisa mengikuti ajaran Islam yang benar. Misalnya upacara memperingati Maulid Nabi Muhammad saw di Surakarta dan Yogyakarta dengan keramaian sekaten, Grebeg Maulud, Grebeg Besar, Grebeg Syawal (Efendy, 1987).
Seh Malaya atau Sunan Kalijaga dalam kebudayaan Jawa ada yang meyakini pernah berguru kepada Nabi Khidir, Nabi Khidir memberi wejangan kepada Sunan Kalijaga di tengah lautan (Woro Aryandini, 1995).
Nabi Khidir ngandika aglis
gedhe endi sira lawan jagad
kalawan gunungipun
samudrane alase sami
tan sesak lumebuwa
mring jro garbaningsun
Seh Malaya duk miyarsa
esmu ajrih kongsi sandika tureki
mulbeng Sang Marbudengrat
(Serat Walisana, Dhandhanggula)

Terjemahan :

Nabi Khidir bersabda segera
besar manakah kamu dengan jagat
semua seisinya itu
sekalian gunungnya
samudra hutan semua
tak sesak kalau masuk
di dalam perutku
Seh Malaya saat mendengar
agak cemas sampai menurut saja
masuk ke dalam Sang Marbudengrat.

Pertemuan Sunan Kalijaga dengan Nabi Khidir as merupakan penemuan jatidirinya sendiri. Hasilnya adalah kesadaran kosmis, kesatuan lahir batin, awal akhir. Di situ meng-gambarkan proses pertemuan eksistensi dan esensi. Sunan Kalijaga sangat peka akan perasaan bahwa ia tidak hidup sendiri di dunia ini, bahwa di samping apa yang kasat mata (dilihat dengan pancaindera), masih luas sekali dunia yang datan kasat mata (tidak terlihat), yaitu dunia halus di dalam jagad raya yang luas membentang tanpa batas ini, maupun di alam jagad manusia, sendiri, dan bahkan juga di sekitar tempat ia berpijak.
Sebagai ulama, Sunan Kalijaga memberi tuntutan agar murid-muridnya menjadi guru dan menyebarkan dakwah Islam di seantero Jawa. Ia memberikan patokan tentang belajar dan berguru sebagai berikut.
Syarat orang untuk menjadi guru sebaiknya:
1. Golongan wirya, yaitu dari gologan yang luhur dan mempunyai derajat.
2. Golongan agama, yaitu ulama yang alim, menguasai kitab-kitab agama.
3. Golongan pertapa, yaitu pendeta yang masih ahli riyalat.
4. Golongan sujana, yakni orang yang memiliki kelebihan dan menjadi orang baik.
5. Golongan aguna, yakni orang yang memiliki kepandaian dan menekuni suatu ilmu.
6. Golongan perwira, yakni para prajurit yang tersohor keperwiraannya.
7. Golongan abandha, yakni golongan orang kaya, dan masih berharta.
8. Golongan supatya, yakni petani yang jujur.
Keharusan orang yang menjadi guru :
1. Parama sastra, yakni pandai tata bahasa
2. Parama kawi, yakni pandai bahasa kawi (kesusastraan)
3. Mardi basa, yakni pandai mengolah kata-kata, pandai bersiasat
4. Mardi walagu, yakni pandai memperindah irama lagu.
5. Hadi carita, yakni pandai bercerita, berbicara untuk meyakinkan orang lain.
6. Mandraguna, yakni kaya akan kepandaian.
7. Nawung krida, tajam penglihatan batinnya, kuat analisanya.
8. Sambegana, artinya kuat daya ingatnya.
Pedoman orang yang menjadi guru :
1. Kasih sayang kepada murid dianggap sebagai anak cucu sendiri.
2. Telaten mengajar, hingga murid menjadi bisa.
3. Tanpa pamrih, tidak mengharapkan apa-apa.
4. Tajam perasaan, dapat menangkap gelagat murid, dan mengatasi suasana.
5. Tidak mengambil apapun sehingga tidak menimbulkan fitnah dan syak wasangka.
6. Tidak menolak pertanyaan, menjawab pertanyaan dengan tepat dan menjelaskan dengan nalar yang bisa dipahami murid.
7. Tidak menahan kecakapan seorang murid, memberikan kesempatan murid berekspresi sesuai minat dan bakatnya.
8. Tidak mencari pujian, tidak menyombongkan kepandaian.
Keutamaan orang yang menjadi guru :
1. Baik keadaan tubuhnya, tidak bercacat.
2. Halus kata-katanya, tidak sering berkata kotor, tidak suka bersumpah.
3. Sopan tingkah lakunya.
4. Teguh pendirian
5. Suka berkorban
6. Tajam pemikiran
7. Suka mengabdi
8. Tidak punya kesenangan yang mengganggu pengajaran
Keterangan tentang syarat menjadi murid yang baik :
1. Keturunan orang baik-baik
2. Sebangsa dengan gurunya
3. Seagama dengan gurunya.
4. Sebahasa dengan gurunya
5. Dapat membaca menulis
6. Sudah lewat setengah usia
7. Tidak berpenyakit
8. Tidak bercacat
Untuk memperkuat ketajaman batin, maka Sunan Kalijaga mengajarkan beragai jenis tapa agar diikuti para muridnya. Sunan Kalijaga sendiri pernah menjadi pertapa ketika berguru kepada Sunan Bonang. Pertama ia bertapa menunggui tongkat Sunan Bonang dan kedua bertapa ngidang menyamar menjadi kijang, makan daun-daunan dan tinggal di hutan belantara. Tapa-tapa yang dianjurkan Sunan Kalijaga di antaranya :
a. Badan : tapanya berlaku sopan santun, zakatnya gemar berbiat kebajikan.
b. Hati atau budi : tapanya rela dan sabar, zakatnya bersih dari prasangka buruk.
c. Nafsu : tapanya berhati ikhlas, zakatnya tabah menjalani cobaan dalam sengsara dan mudah mengampuni kesalahan orang.
d. Nyawa atau ruh : tapanya berlaku jujur, zakatnya tidak mengganggu orang lain dan tidak mencela.
e. Rahsa : tapanya berlaku utama, zakatnya duka diam dan menyesali kesalahan atau bertaubat.
f. Cahaya atau nur : tapanya berlaku succi dan zakatnya berhati ikhlas.
g. Atma atau hayu : tapanya berhati awas dan zakatnya selalu ingat.
Di samping itu diajarkan pula tapa dan perbuatan yang berhubungan dengan tujuh anggota badan :
a. mata : tapanya mengurangi tidur, zakatnya tidak menginginkan kepunyaan orang lain.
b. Telinga : tapanya mencegah hawa nafsu, zakatnya tidak mendengarkan perkataan-perkataan yang buruk.
c. Hidung : tapanya mengurangi minum, zakatnya tidak suka mencela keburukan orang lain.
d. Lisan : tapanya mengurangi makan, zakatnya dengan menghindari perkataan-perkataan buruk.
e. Aurat : tapanya menahan syahwat dan zakatnya menghindari perbuatan zina.
f. Tangan : tapanya mencegah perbuatan mencuri, zakatnya tidak suka memukul orang lain.
g. Kaki : tapanya tidak untuk berjalan berbuat kejahatan dan zakatnya menyukai berjalan untuk istirahat dan instropeksi.
Masyarakat Jawa memberikan tempat yang amat terhormat kepada orang yang mengajarkan ilmu kepadanya. Di zaman dahulu disebut : pendeta, brahmana, ajar, resi, wiku, dan dwija, kemudian disebut guru, yaitu guru ilmu, bukan guru sekolah. Guru pun terhitung pemimpin non formal. Makin besar perguruannya, makin besar pengaruh seorang guru kepada masyarakat (Kamajaya, 1998: 20).
Guru wajib dihormati, bahkan wajib disembah, karena gurulah yang : “Menunjukan hidup yang sempurna hingga akhir hayat, yang memberi petunjuk tentang kebaikan dan dialah yang dapat memberi nasihat sewaktu orang bersusah hati. Orang durhaka kepada guru adalah dosa paling besar maka berbuat baiklah, mohonlah siang dan malam akan cinta kasihnya. Jangan cinta kasihnya sampai berkurang” (Paku Buwana IV, 1982: 72-73).
Meskipun ada amanat orang harus menghargai guru, namun orang pun dipesan agar pandai-pandai memilih gurunya. Diberikan amanat tentang “memilih guru” sekaligus menunjukan betapa sifat guru yang baik, dan yang selainnya adalah guru yang cacat dan tercela (Kamajaya, 1998: 21). Sri Paku Buwana IV, berpesan di dalam Serat Wulungreh sebagai berikut:
Nanging yen sira nggeguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana (Kamajaya, 1988: 21).

Terjemahan:

Tetapi apabila anda akan berguru, pilihlah manusia yang benar, yang baik kedudukannya, dan yang tahu hukum, yang beribadah dan yakin kebenaran Tuhan, syukur dapat pertapa, yang tekun, yang tak meng-harapkan pemberiaan orang, itulah yang anda pantas berguru kepadanya, serta ketahuilah.
Sunan Kalijaga mengajarkan jalan menuntut ilmu menuju kesempurnaan hidup harus diusahakan agar dapat mencapai kedamaian dan ketren¬taman. Oleh karena itu Sunan Kalijaga mengajarkan agar manusia hendaknya dapat mengen¬dalikan nafsu-nafsunya yaitu:
a. Nafsu amarah
Nafsu amarah terjadi karena pengaruh logika terha¬dap pikiran yang meyakini bahwa apa yang tidak sesuai dengan akal mudah menjadi penyebab tim¬bul¬nya perselisihan, yaitu perselisihan antara dua orang, dua golongan dan dua bangsa dengan ben¬cana peperangan sebagai akibatnya.
b. Nafsu sufiah
Nafsu sufiah atau berahi harus disalurkan sesuai de¬ngan peradaban.
c. Nafsu lawamah
Nafsu lawamah adalah nafsu yang mementingkan diri sendiri.
d. Nafsu mutmainah
Nafsu mutmainah atau nafsu suci cenderung dekat dengan Tuhan.
(Paryana, 1993: 97)
Serat Walisanga menggambarkan nafsu amarah dengan warna merah, nafsu lawamah dengan warna hitam, nafsu su¬fiah dengan warna kuning dan nafsu mutmainah dengan warna putih. Nafsu mutmainah itulah yang dapat mengan¬tarkan manusia menuju kesempurnaan hidup. Menurut Sunan Kalijaga, ketika seseorang sudah bisa menyingkirkan tiga nafsu amarah, sufiah dan lawamah, maka ia akan sampai kepada mutmainah. Pada saat inilah orang akan mencapai derajat wali yang semua kehendaknya menjadi kehendak Allah, semua keinginnnya dikabulkan oleh Allah SWT.
Gambaran yang seperti itu sudah sangat populer di Ja¬wa yakni yang digambarkan sebagai manusia tanpa ca¬cat, yakni yang cipta dan rasanya telah luluh menjadi satu (Supadjar, 1995: 32). Sebagai khalifah di muka bumi, manusia tidak boleh berpangku tangan begitu saja tan¬pa berbuat apa-apa. Sebab hal ini berkaitan erat dengan kelangsungan bumi ini. Sebaliknya perlakuan buruk pula akan membuat ketidakseimbangan kehidupan yang secara otomatis mempercepat proses kehancuran bumi.
Sifat-sifat yang disebutkan perlu penjelasan-penjelas¬an yang lebih jauh. Misalnya saja tentang sifat sabar. Seka¬rang ini sabar dipahami oleh banyak orang hanya menjurus kepada sifat sabar yang pasif, dalam arti tidak berbuat apa-apa tatkala menghadapi persoalan. Padahal jika mencoba mengkaitkan dengan ajaran Islam yang menganjurkan ber¬buat sesuatu untuk kelangsungan kehidupan, sabar bisa ber¬arti tegar, berdiri kokoh, atau tidak berputus asa ketika meng¬hadapi rintangan, malahan harus tetap berusaha se¬ca¬ra maksimal. Artinya ayat-ayat Al Qur’an tidak dapat di¬lihat secara sendiri-sendiri dan terjebak dalam maknanya yang tersurat saja, tetapi perlu dilihat secara lebih menye¬luruh dan ditafsirkan secara konstekstual. Di sinilah perlu¬nya ada pengkajian secara mendalam dan kontinyu (Yafie, 1997: 154-155).
Al Qur’an juga merumuskan sifat-sifat buruk manusia dan mengingatkan agar menghindari sifat-sifat tersebut, un¬¬tuk menjadi manusia kamil yang memiliki keseimbangan. Di antara sifat-sifat tersebut adalah: lemah dalam Surat An Nisa : 28, berkeluh kesah dalam Surat Al Maarij : 19, ingkar dan dhalim dalam Surat Ibrahim: 18-19, khianat, bakhil, pe¬ma¬rah, memencilkan diri dari pergaulan, dengki, cinta pada dunia secara berlebihan, dusta, sombong, meremeh¬kan orang lain, takabur, penakut dan ingkar. Insan kamil ada¬lah manusia yang memiliki keseimbangan (mental), yang dapat memadukan kehidupan pribadinya sebagai in¬di¬vidu dan kehidupan sosialnya sebagai warga masyarakat. Manusia semacam ini, sebagaimana hasil kajian terhadap Al-Quran, adalah manusia yang memiliki kesadaran bah¬wa kehadirannya di muka bumi ini tidak sendiri. Dia bersa¬ma dengan sesama manusia, dia bersama dengan makhluk dan benda lain yang juga ciptaan Tuhan (Yafie, 1997: 156).

9. Penjaga Jagad Ghaib
Sunan Kalijaga juga dianggap tokoh pemersatu yang bisa merangkul berbagai golongan dan aspirasi. Bahkan masyarakat Samin, pengikut Samin Surasentika di Klapa Dhuwur, Blora dan sekitarnya merasa bahwa mereka diasuh oleh Sunan Kalijaga. Sepenggal ceramah Kyai Samin Surasentika di Ara-ara Bapangan, Jawa Timur, 7 Februari 1889 :
Gur tameh eling bilih sira kabeh orak sanes turun Pandhawa
Lan uwis nyipati kabrokalan
Krandhah Majapahit sakeng kakrage wadya musuh
Mula sakuwit biyen kalanira
Puntadewa titip tanah Jawa marang ing Sunan Kalijaga
Iku maklumat tuwila kajantaka.

Terjemah :
Ingatlah bahwa kalian semua tidak lain adalah keturunan Pandawa.
Yang mendapat musibah terkalahkan
Pada zaman Majapahit oleh musuh
Puntadewa menitipkan tanah Jawa ini kepada Sunan Kalijaga
Itu maklumatku pegangilah baik-baik.
Dalam ceramah itu, Kyai Samin mengingatkan tiga hal, pertama, Wong Samin tidak lain adalah keturunan satria Pandawa, tepatnya Puntadewa raja yang berbudi luhur. Kedua, pada zaman “senja kalanya Majapahit” keturunan ini mengalami pukulan dari orang-orang Demak. Ketiga, Puntadewa menitipkan keselamatan Wong Samin kepada Sunan Kalijaga, seorang ulama yang dianggap moderat dan bisa menjadi pelindung, walaupun bagi kelompok yang tidak sehaluan politik dengannya. Manuskrip itu ditemukan di Kantor Arsip Gubernur Jawa Timur yang berasal dari Gubernur Jendral Van Der Plas. Soeryanto Sastroatmodjo telah mengkaji masyarakat Samin ini dari aneka dongengan rakyat yang berkembang di daerah sekitar, ternyata istilah Samin telah ada sebelum Kyai Samin Sepuh dan Anom mengajarkan piwulang-piwulangnya (Sastroatmodjo, 2003:63-66).
Masyarakat Samin generasi awal adalah masyarakat Kalang di lembah Bengawan Solo, yang terdiri dari bekas pendheta, brahmana dan para priyayi Majapahit akhir yang menyingkir karena terdesak oleh kekuatan Demak. Mereka percaya bahwa Serat Jamus Kalimasada yang bercerita tentang Prabu Puntadewa atau Prabu Darmakusuma yang mengembara mencari kematian ke Tanah Jawa kemudian menyerahkan Jamus Kalimasada itu kepada Sunan Kalijaga, seraya menitipkan “anak cucu”nya, yakni Kaum Samin itu dengan pesan bahwa merekalah pewaris Tanah Jawa di masa yang akan datang. Kepercayaan yang anarkis ini dipercayai hingga sekarang.
Alam pikiran Samin jelas-jelas merupakan produk pikiran Jawa asli yang merupakan reduksi dari ajaran Trisula Wedha : Hindu-Budha, Kristen dan Islam. Wong Samin mengagungkan pendhawa lima dengan Puntadewa sebagai intinya. Puntadewa berjiwa polos lugu tidak pernah berdusta tekun dalam pendalaman diri, tidak mau dicampuri orang lain dan sangat ahli dalam beragumen. Mereka meyakini, Samin (sami-sami amin = sama rata, sama sejahtera, sama mufakat) adalah dewa yang menitis ke dunia atau bathara kang kalingga sujanma (Sastroatmodjo, 2003:63-66).
Sunan Kalijaga adalah seorang dalang wayang purwa. Ia terkenal sebagai dhalang wayang kulit yang sengat menarik. Bila Sunan Kalijaga pentas di suatu desa, penonton berjubel-jubel memadati halaman. Pentas wayang Sunan Kalijaga adalah dalam rangka mendakwahkan Islam. Ia tidak pernah menarik bayaran materi. Sebagai bayarannya ia mengajak kepada seluruh hadirin untuk bersyahadat mengucapkan sumpah pengakuan bahwa tidak Tuhan selain Allah dan mengakui Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Sunan Kalijaga mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mengurangi perbuatan syirik dan setia kepada ajaran Islam. Lewat sarana itulah Sunan Kalijaga berhasil meratakan Islam di seluruh bumi Jawa (Solichin, 1977).
Peninggalan Sunan Kalijaga dalam bidang kerawitan adalah gamelan, yang diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Madu. Gamelan itu kini disimpan di Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta, seiring dengan berpindahnya Islam ke Mataram. Pasangan itu kini dikenal sebagai gamelan Sekaten (Handoko, 2001).
Ahli sejarah mencatat, wayang yang digemari masyarakat sebelum kehadiran Sunan Kalijaga adalah wayang beber. Sunan Kalijaga juga mengubah wayang kulit dari bentuk beber menjadi terpisah. Tiap tokoh dipisah satu persatu dan diberi tangan yang bisa digerakan. Wayang beber sebelumnya sebatas kertas yang bergambar kisah pewayangan. Sunan Kalijaga diyakini sebagai penggubah wayang kulit. Tiap tokoh wayang dibuat gambarnya dari disungging di atas kulit kambing. Bentuknya berkembang dan disempurnakan pada era kejayaan Kerajaan Demak, 1480-an. Cerita dari mulut ke mulut menyebut, Kalijaga juga piawai mendalang. Sebagai dalang, Sunan Kalijaga lebih dikenal sebagai Ki Dalang Sida Brangti (Handoko, 2001).
Sunan Kalijaga mengarang lakon-lakon wayang dan menyelenggarakan pergelaran-pergelaran wayang dengan upah baginya sebagai dalang berupa Jimat Kalimasada atau ucapan kalimat syahadat. Beliau mau memainkan lakon wayang yang biasanya untuk meramaikan suatu pesta peringatan-peringatan asal yang memanggil itu mau bersyahadat sebagai kesaksian bahwa ia rela masuk Islam. (Siswoharsoyo, 1957).
Masyarakat kita bangsa Indonesia, khususnya Jawa masih gemar sekali hal wayang itu, mulai zaman dahulu hingga sekarang, baik di desa maupun di kota. Oleh karena itu Wali Sanga memperhatikan hal tersebut untuk keperluan memasukan dakwah Islamiyah. Ketika mendalang itulah Sunan Kalijaga menyisipkan ajaran-ajaran Islam. Lakon yang dimainkan tak lagi bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabarata. Sunan Kalijaga mengangkat kisah-kisah carangan. Dengan wayang Sunan Kalijaga menyajikan kata-kata mutiara yang bukan saja untuk persembahyangan, meditasi, pendidikan, pengetahuan, hiburan, tetapi juga menyediakan fantasi untuk nyanyian, lukisan estetis dan menyajikan imajinasi puitis untuk petuah-petuah religius yang mampu mempesona dan menggetarkan jiwa manusia yang mendengarkannya. Wayang merupakan cermin bagi kehidupan manusia. Perwatakan manusia yang berbeda-beda digambarkan oleh wayang baik yang sedang dijejer, disimping maupun dikothak (Sri Mulyono, 1982: 12).
Mengenai riwayat pertunjukan wayang. Wayang merupakan salah satu warisan bangsa Indonesia yang sudah berkembang selama berabad-abad. Sejarah mencatat bahwa pertunjukan wayang mulai dikenal dan dipergelarkan sejak zaman Balitung sekitar tahun 907 M. Brandes menyatakan bahwa wayang sudah ada sejak zaman Prapanca sekitar tahun 778 M. Sedangkan Hiding mengatakan bahwa wayang sudah dipergelarkan sejak zaman Megalitik sekitar 1500 tahun sebelum M (Haryanto, 1992: 14).
Melihat usianya yang sudah cukup panjang ini, maka wajar kalau keberadaan seni pewayangan telah mengalami penyempurnaan demi penyempurnaan, sehingga mem-buahkan sajian seni adiluhung yang betul-betul mapan dan mempunyai pasar yang sangat mengakar. Meskipun kerangka dasar cerita wayang bersumber dari epos India (Mahabarata dan Ramayana), namun dalam realias pementasannya oleh Sunan Kalijaga, wayang disesuaikan dengan ajaran Islam. Cerita-cerita wayang sekarang bila dibandingkan dengan sumber aslinya akan tampak sekali telah mengalami banyak perubahan. Misalnya dalam cerita Mahabarata India asli, Dewi Dropadi menjadi istri lima orang Pendawa sekaligus (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa). Tetapi dalam pementasan wayang Sunan Kalijaga, Dewi Dropadi hanya menjadi istri Prabu Yudhistira. Sistem poliandri yang dikenal dalam cerita Mahabarata versi India itu dalam budaya dan tradisi pewayangan Jawa sama sekali tidak diperkenankan.
Menurut RM Sajid (1962), pada zaman Kerajaan Majapahit lebih dikenal dengan pementasan wayang beber, yaitu wayang yang bentuknya dibentangkan (dibeber). Sejak zaman Kerajaan Islam Demak (zaman para wali), wayang beber ini mengalami perubahan besar-besaran, seolah-olah telah berganti wujud baru. Perubahan ini bukan saja dalam bentuk pelaku-pelaku seadegan dilukiskan bersama-sama dalam satu lembaran, maka sejak zaman para wali dilukis terperinci, dengan masing-masing tokohnya terpisah dari yang lainnya. Bentuk lukisannya juga tidak menghadap tetapi berbentuk miring dan dilukis dari samping. Bentuk badan serta perimbangan anggota-anggota badannya maka tidak lagi menyerupai bentuk manusia normal, tetapi justru lebih jauh dari bentuk asli manusia (Efendy Zarkasi, 1977: 27).
Pembuatan wayang dari kulit kerbau, dimulai oleh Sunan Kalijaga pada zaman Raden Patah, yang bertahta di Demak ini. Sebelumnya lukisan wayang yang menyerupai bentuk manusia sebagaimana yang terdapat pada relief Candi Panataran di daerah Blitar. Lukisan yang mirip manusia oleh sebagian ulama dinilai bertentangan dengan syara. Para wali, terutama Sunan Kalijaga kemudian menyiasatinya dengan mengubah dari lukisan yang menghadap (Jawa = methok) menjadi miring. Dahulu sebelum memakai pahatan pada bagian mata, telinga, perhiasan, dan lain-lainnya, wayang hanya digambar saja. Dengan mengubah bentuk dan lukisan wayang berbeda dengan bentuk manusia sesungguhnya, maka tidak ada alasan lagi untuk menuduh bahwa wujud wayang melanggar hukum fiqih Islam. Selain itu, atas saran para wali, Sunan Kalijaga juga membuat tokoh Semar, Petruk, Gareng dan Bagong sebagai tokoh panakawan yang lucu. Kadang kala, ia menggunakan tokoh Bancak dan Doyok (Efendy Zarkasi, 1977: 28-29).
Semar dari kata Arab simaar atau ismarun artinya paku. Paku itu alat untuk menancapkan suatu barang, agar tegak, kuat, tidak goyah. Semar juga memiliki nama lain yakni ismaya, yang berasal dari kata asma-Ku atau simbol kemantapan dan keteguhan. Karena itu ibadah harus didasari keyakinan kuat agar ajarannya tertancap sampai mengakar. Tokoh panakawan lain yakni anak Semar, Nala Gareng dari kata naala qorin yang artinya memperoleh banyak kawan. Hal ini serupa dengan tujuan dakwah yaitu memperbanyak kawan, memperluas sahabat dan mengajak mereka menyembah Allah SWT (Endraswara, 2003: 105).
Dalam bahasa religi hal tersebut sering disebut amar ma’ruf. Di samping terus menyebarkan kebaikan, umat Islam juga harus mampu seperti tokoh Petruk dan Bagong. Petruk berasal dari kata fatruk yang artinya tinggalkan yang jelek atau nahil mungkar. Bagong berasal dari kata bagho yang berarti pertimbangan makna dan rasa, antara rasa yang baik dan buruk, benar salah. Harus berani melawan siapapun yang dzalim (Endraswara, 2003: 105).
Selanjutnya RM Sajid (1962) mengatakan bahwa Sunan Giri melengkapi lagi bentuk wayang dengan hiasan­hiasan seperti kelat bahu (hiasan pangkal lengan), gelang keroncong (gelang kaki), anting telinga, badong (hiasan pada pinggang), dan zamang (hiasan pada kepala). Sedang yang mengarang lakon wayang dan suluknya adalah Ratu Tunggal di Giri tatkala mewakili di Istana Demak tahun 1478 Saka. Dimulainya wayang pahat bergaris-garis gambir (garis-garis lembut pada rambut misalnya) itu pada tahun 1477 Saka atas perintah Raden Trenggana bergelar Jeng Sultan Syah Ngalam Akbar III di Demak. Kemudian pada zaman Jaka Tingkir, Sultan Hadiwijaya raja Pajang, wayang dipahat gayaman, tetapi tangan masih sambung dengan badan. Wayang ditatah halus benar sejak zaman Panembahan Senapati ing Ngalaga Sayidin Panatagama Mataram tahun 1541 Saka (Efendy Zarkasi, 1977 : 29-30).
Penambahan lakon wayang sebagai aktivitas krea-tif dilakukan oleh para pujangga Jawa selalu disesuaikan dengan ajaran Agama Islam. Karena mayoritas orang Jawa beragama Islam, maka sudah barang tentu warna dan nilai Islam, sangatlah berpengaruh terhadap segala kreativitas dan inovasi lakon baru itu. Contoh dalam lakon Jimat Kalimasada adalah lambang dari dua kalimah syahadat. Cerita Jimat Kalimasada tidak ada dalam epos asli Mahabarata. Cerita-cerita baru (lakon carangan) lainnya yang tidak terdapat dalam cerita induk Mahabarata dan Ramayana antara lain: Mustakaweni, Petruk Dadi Ratu, Mbangun Candi Sapta Harga, Semar Mbangun Kahyangan dan Dewaruci. Kalau diamati, temyata lakon-lakon carangan tersebut sangat populer dan lebih sering ditampilkan dalam pergelaran wayang sekarang ini.
Sampai saat ini jenis-jenis wayang paling tidak telah berjumlah lebih dari dua puluh satu buah yakni: 1) Wayang Beber, 2) Wayang Gedhog, 3) Wayang Kidang Kencana, 4) Wayang Purwa, 5) Wayang Golek, 6) Wayang Sunggingan, 7) Wayang Krucil atau Klithik, 8) Wayang Wong, 9) Wayang Keling Pekalongan, 10) Wayang Dakwah, l1) Wayang Betawi, 12) Wayang Bali, 13) Wayang Potehi, 14) Wayang Madya, 15) Wayang Tasripin, 16) Wayang Suluh, 17) Wayang Wahana, 18) Wayang dan Perjuangan, 19) Wayang Kancil, 20) Wayang Pancasila, 21) Wayang Wahyu (Ismunandar, 1988: 4).
Jenis wayang tersebut di atas, yang paling banyak penggemamya adalah wayang purwa yang mengambil cerita dari epos besar Mahabarata dan Ramayana (Koentjaraningrat, 1984: 290). Kepopuleran wayang kulit purwa dapat dilihat dari kuantitas frekuensi pementasannya. Pada musim masyarakat banyak mempunyai hajat atau hari-hari penting, tidak jarang keluarga dan instansi baik negeri maupun swasta yang menanggap pergelaran wayang purwa semalam suntuk. Pertunjukan wayang banyak mengandung unsur-unsur yang berfaedah bagi kehidupan masyarakat. Wayang dipandang sebagai suatu kesenian tradisional dengan multifungsi dan dimensi (Sri Mulyono, 1989: 99).
Sedikitnya ada enam manfaat yang dapat dipetik dari dunia pakeliran itu: Mengenal salah satu jenis seni dan budaya bangsa Indonesia, sebagai salah satu kesenian adiluhung warisan nenek moyang. Mengetahui keindahan seni rupa, tatah, ukir, dan sungging. Mengetahui dan memahami seni sastra serta merupa-kan hiburan sehat bagi jasmani rohani, Mengenal secara lebih dekat watak dan figur tokoh wayang yang merupakan lambang karakter serta sifat-sifat manusia untuk memahami jati dirinya. Pewayangan merupakan suatu ensiklopedia yang hidup, tentang perilaku kehidupan manusia yang banyak mengandung falsafah dan ajaran kerohanian seperti etika, estetika, kesetiaan, pengabdian dan cinta tanah air, serta mengandung ajaran sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup manusia). Intisari ceritanya yang mulia, dapat dijadikan untuk membimbing budi pekerti agar selalu berbuat kebajikan dan menjauhi perbuatan yang didorong oleh nafsu angkara murka (Wijanarko, 1990: 34).
Bagi bangsa Indonesia khususnya masyarakat Jawa, wayang merupakan kesenian klasik tradisional yang banyak memberikan peluang untuk menuju penyempurnaan diri. Wayang yang berbentuk boneka mengandung banyak pasemon (kiasan) yang oleh alam logika sangat sulit dijabarkan sehinggga membuat pengamat pewayangan menjadikan polemik yang tiada habis-habisnya. Namun demikian sebenarnya bagi orang Jawa sendiri pengkajian kebenaran tidak semata-mata harus melalui indra batin. Rasio dan indra batin dalam bahasa Jawa disebut cipta dan rasa. Seringkali rasio terdesak ke belakang sehingga penilaian indra batinlah yang kadang-kadang memegang peranan utama. Maka tidak mengherankan kalau filsafat orang Jawa ada kalanya berhasil menjelajahi alam irrasional, alam di luar akal atau dunia mistik (Haryanto, 1992: 10-11).
Khusus bagi para wali dan juru dakwah lain, wayang berfungsi sebagai sarana untuk menyiarkan ajaran Agama Islam yang Sangat efektif Berdasarkan pengalaman sejarah, wayang pernah digunakan para wali untuk menyebarkan ajaran Islam agar dipeluk oleh orang Jawa mulai lapisan terbawah hingga kalangan elit priyayi.
Sunan Kalijaga juga merupakan seorang ulama dan guru spiritual. Salah satu ajaran spiritual Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa waktu itu adalah Kidung Rumeksa Ing Wengi. Kidung ini merupakan sarana dakwah dalam bentuk tembang yang populer dan menjadi semacam “kidung wingit” karena dipercaya membawa tuah seperti mantra sakti. Dakwah itu dirangkai menjadi sebuah tembang bermetrum dhandhanggula dan seolah-olah sampai saat ini “abadi” sepanjang zaman. Orang-orang pedesaan masih banyak yang hapal dan mengamalkan syair kidung ini.
Sebagai warisan kepada anak cucu, nasehat dalam bentuk tembang lebih langgeng dan awet dalam ingatan. Sepeninggal penggubahnya, kidung ini telah menjadi “milik rakyat”. Siapapun yang membaca dan mengamalkan tidak dipungut royalti.
Fungsi kidung rumeksa ing wengi ini bagi rakyat Jawa adalah : (a) penolak bala di malam hari, seperti teluh, tenung, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan bilahi; (b) pembebas semua denda; (c) penyembuh penyakit, termasuk gila; (d) pembebas bencana; (e) mempercepat jodoh; (f) doa menang perang; (g) penolak hama tanaman; (h) memperlancar mencapai cita-cita luhur.
Adapun bunyi syair kidung tersebut adalah sebagai berikut :
Kidung Rumeksa ing Wengi
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputa ing lelara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah mring mami
Guna duduk pan sirna

Sakabehing lara pan samnya bali
Sakeh ngama pan sami miruda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak lulut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning wong lemah miring
Myang pokiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaikat
Sakathahing rasul
Pan dadi sarira tunggal
Ati Adam uteku Baginda Esis
Pangucapku ya Musa.

Napasku Nabi Musa linuwih
Nabi Yakub pamyarsaningwang
Yusup ing rupaku mangke
Nabi Dawud swaraku
Jeng Suleman kasekten mami
Nabi Ibrahim nyawaku
Edris ing rambutku
Bagendha Li kulitingwang
Getih daging Abu Bakar singgih
Balung Bagenda Usman

Sungsumingsun Patimah linuwih
Siti Aminah bayuning angga
Ayub ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhammad
Pamuluku rasul
Pinayungan Adam sarak
Sampun pepak sakathahing para nabi
Dadya sarira tunggal

Wiji sawiji mulune dadi
Apan pencar saisining jagad
Kasamadan dening date
Kang maca kang angrungu
Kang anurat kang anyimpeni
Dadi ayuning badan
Kinarya sesembur
Yen winacakna ing toya
Kinarya dus rara gelis laki
Wong edan nuli waras

Lamun ana wong kadhendha kaki
Wong kabanda wong kabotan utang
Yogya wacanen den age
Nalika tengah dalu
Ping sawelas macanen singgih
Luwar saking kabanda
Kang kadhendha wurung
Aglis nuli sinauran mring hyang
Suksma kang utang puniku singgih
Kang agring nuli waras

Lamun arsa tulus nandur pari
Puwasaa sawengi sadina
Iderana galengane
Wacanen kidung iku
Sakeh ngama sami abali
Yen sira lunga perang
Wateken ing sekul
Antuka tigang pulukan
Musuhira rep sirep tan ana wani
Rahayu ing payudan.

Sing sapa reke bisa nglakoni
Amutiya lawan anawaa
Patang puluh dina wae
Lan tangi wektu subuh
Lan den sabar sukuring ati
Insya Allah tinekan
Sakarsanireku
Tumrap sanak rakyatira
Saking sawabing ngelmu pangiket mami
Duk aneng Kalijaga.
(Serat Kidungan Warna-warni, Surakarta, Boedi Oetomo, 1919)

Terjemahan :
Ada nyanyian yang menjaga di malam hari
Kukuh selamat terbebas dari penyakit
Terbebas dari semua malapetaka
Jin setan jahat pun tidak berkenan
Guna-guna pun tidak ada yang berani
Juga perbuatan jahat
Ilmu orang yang bersalah
Api dan juga air
Pencuri pun jauh tak ada yang menuju padaku
Guna-guna sakti pun lenyap

Semua penyakit pun bersama-sama kembali
Berbagai hama sama-sama habis
Dipandang dengan kasih sayang
Semua senjata lenyap
Seperti kapuk jatuhnya besi
Semua racun menjadi hambar
Binatang buas jinak
Kayu ajaib dan tanah angker
Lubang landak rumah manusia tanah miring
Dan tempat merak berkipu

Tempat tinggal semua badak
Walaupun arca dan lautan kering
Pada akhirnya semua selamat
Semuanya sejahtera
Dikelilingi bidadari
Dijaga oleh malaikat
Semua rasul
Menyatu menjadi berbadan tunggal
Hati Adam, otaku Baginda Sis
Bibirku Musa.

Napasku Nabi Isa as
Nabi Yakub mataku
Yusuf wajahku
Nabi Dawud suaraku
Nabi Sulaiman kesaktianku
Nabi Ibrahim nyawaku
Idris di rambutku
Baginda Ali kulitku
Darah daging Abu Bakar Umar
Tulang Baginda Usman

Sumsumku Fatimah yang mulia
Siti Aminah kekuatan badanku
Ayub kin dalam ususku
Nabi Nuh di jantung
Nabi Yunus di ototku
Mataku Nabi Muhammad
Wajahku rasul
Dipayungi oleh syariat Adam
Sudah meliputi seluruh para nabi
Menjadi satu dalam tubuhku

Kejadian berasal dari biji yang satu
Kemudian berpencar ke seluruh dunia
Terimbas oleh zat-Nya
Yang membaca dan mendengarkan
Yang menyalin dan menyimpannya
Menjadi keselamatan badan
Sebagai sarana pengusir
Jika dibacakan alam air
Dipakai mandi perawan tua cepat bersuami
Orang dila cepat sembuh

Jika ada orang didenda cucuku
Atau orang yang terbelenggu keberatan hutang
Maka bacalah dengan segera
Di malam hari
Bacalah dengan sungguh-sungguh sebelas kali
Maka tidak akan jadi didenda
Segera terbayarkan oleh Tuhan
Karena Tuhanlah yang menjadikannya berhutang
Yang sakit segera sembuh

Jika ingin bagus menanam padi
Berpuasalah sehari semalam
Kelilingilah pematangnya
Bacalah nyanyian itu
Semua hama kembali
Jika engkau pergi berperang
Bcakan ke dalam nasi
Makanlah tiga suapan
Musuhmu tersihir tidak ada yang berani
Selamat di medan perang

Siapa saja yang dapat melaksanakan
Puasa mutih dan minum air putih
Selama 40 hari
Dan bangun waktu subuh
Bersabar dan bersyukur di hati
Insya Allah tercapai
Semua cita-citamu
Dan semua sanak keluargamu
Dari daya kekuatan seperti yang mengikatku
Ketika di Kalijaga.

Kidung ini menunjukan ajaran religiusitas bagi rakyat Jawa dalam menghadapi datangnya zaman edan, kalabendu dan kalatidha. Nafas dakwah yang tersurat dalam kidung tersebut adalah (a) disebutnya nama Allah, malaikat, rasul dan nabi-nabi, serta keluarga dan para sahabat Nabi Muhammad saw seperti Baginda Ali, Usman, Abu Bakar, Umar, Aminah dan Fatimah; (b) disebutnya istilah-istilah seperti puasa, subuh, sabar, subuh, syukur, insya Allah, dzat, malaikat, nabi, rasul, dan syarak. Jadi secara maknawi kidung ini merupakan dakwah Islam yang sangat kental yang membuktikan bahwa Sunan Kalijaga adalah guru spiritual rakyat Jawa.

10. Putera Tumenggung Wilatikta
Sunan Kali Jaga merupakan salah seorang di antara para wali penyebar agama Islam di Jawa, yang mendapat gelar wali sanga. Menurut ceritera tradisi beliau adalah putera Tumenggung Wilatikta dari Tuban. Pada waktu muda (sebelum menjadi ulama) beliua bernama Raden Mas Said. Beliau mempunyai tiga orang putera yaitu Raden Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rukayah dan Dewi Sofiah.

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kalijaga menggunakan unsure-unsur keislamana dalam adapt kebiasaan masyarakat yang asih berlangsung. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dalam mempraktekkan pengajaran syariat Islam banyak dicampuri dengan unsure-unsur adat lama dan cenderung berkompromi dengan kepercayaan pra Islam. Salah satunya adalah menggunakan media kesenian untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Misalnya seperti wayang, Sunan Kalijaga terkenal pandai dalam mendalang, sehingga dalam setiap dakwahnya beliau selalu memainkan wayang.

Kapan wafatnya Sunan Kalijaga masih menjadi polemic sampai saat ini. Begitu juga dengan makamnya. Ada masyarakat yang meyakini bahwa makam Sunan Kalijaga berada di desa Kadilangu, namun ada pula yang berpendapat bahwa makan Sunan Kalijaga berada di Cirebon. Berikut ini akan dijelaskan Kompleks makam Sunan Kalijaga yang di Kadilangu.
Peranan Sunan Kalijaga dalam politik pemerintahan dimulai sejak awal berdirinya Kasultanan Demak sampai akhir dari Kasultanan tersebut. Sunan Kali Jaga nampaknya juga sempat menjadi orang penting di Kerajaan Demak. Pada masa pemerintahan Raja Trenggana ia cukup mendapat tempat, terutama karena ia adalah seorang keturunan bangsawan tinggi. Keadaan tersebut menyebabkan imam besar Masjid Demak (kelak bernama Sunan Kudus) menyingkir dan mendirikan amsjid sendiri di Kudus. Sunan Kali Jaga kemudian diangkat sebagai imam besar Masjid Demak menggantikan Sunan Kudus. Salah seorang anak perempuannya bahkan diambil menjadi istri muda Raja Trenggana.

Makam Sunan Kalijaga
Makam Sunan Kali Jaga terl;etak di Desa Kadilangu sekitar tiga kilometer di sebelah tenggara Kota Demak. Makam tersebut berada dalam satu kompleks dengan makam para kerabat dan pengikutnya. Kompleks makam Sunan Kali Jaga terbagi menjadi lima halaman, letak makam Sunan Kali Jaga sendiri berada di halaman kelima. Lokasi makam tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan makam-makam yang lain.

Jirat dan Nisan makam Sunan KaliJaga terbuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 240 cm, lebar 100cm, dan tinggi 100 cm. Nisan dan Jirat makam, tidak diberi hiasan apapun. Makam Sunan Kali Jaga berada dalam cungkup yang berkukuran 3 m x 3 m, dengan dinding yang terbuat dari kayu jati berwarna hitam. Selain makanm Sunan Kalijaga dalam cungkup tersebut juga terdapat makam istrinya (Retno Dumilah), serta tempat menyimpan benda pusaka peninggalannya berupa keris Kyai Carubuk dan baju jubah Ontokusumo.

Ziarah dan Upacara
Sebagaimana makam-makam wali yang lain, makam Sunan Kali Jaga juga termasuk sebagai makam yang dikeramatkan. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila setiap hari makam tersebut ramai dikunjungi para peziarah. Para peziarah yang datang tidak dapat setiap hari masuk dalam cungkup makam Sunan Kalijaga, karena cungkup tersebut hanya dibuka pada hari-hari tertentu yaitu Jum’at Pahing, Jum’at Pon, dan Jum’at Kliwon serta beberapa hari-hri besr Islam.

Pada setiap tanggal 1 Dzulhijjah atau sepuluh hari sebelum hari raya Idul Adha, kain kelambu yang ada pada makam diganti. Penggantian ini merupakan rangkaian dari perayaan garebeg besar yang diadakan setiap tanggal 10 Dzuulhijjah. Pada saat perayaan tersebut, dilakukan pula upacara pajamasan pusaka pakaian kebesaran Ontokusumo dan keris Kyai Carubuk. Upacara grebeg besar itu sendiri dilaksanakan di halaman Masjid Agung Demak.
Pajamasan/ pemandian kedua benda pusaka tersebut menggunakan minyak jamas, dan dilakukan oleh sesepuh Kadilangu. Pajamasan dilakukan pada suatu ruangan gelap di dalam Cungkup Makam Sunan Kali Jaga. Upacara tersebut dilakukan pada pagi hari, setelah selesai shalat Idul Adha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar