Social Icons

DESA WATUROYO

Hadiwijoyo (Jaka Tingkir) adalah sultan Keraton Pajang. Suatu hari, putranya Sultan Hadiwijoyo yang bernama Pangeran Benawa pergi dari keraton karena sakit hati bahwa wahyu keraton tidak diberikan kepadanya. Pangeran Benawa pergi bersama Ki Rebo dan berjalan ke arah utara. Setelah berjalan beberapa hari, Pangeran Benawa sampai di sebuah tempat yang masih berupa hutan belantara dan berhenti untuk beristirahat. Di sana Pangeran Benawa tafakur kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk. Setelah tiga hari tiga malam ia bertafakur, pada jam 3 pagi Pangeran Benawa bermimpi didatangi Sunan Kalijaga. “ Ngger, Pangeran Benawa kamu jangan bersusah hati terimalah dengan lapang dada, kalau wahyu Keraton Pajang pindah di Mataram. Saudaramu Danang Sutowijoyolah yang mendapatkan wahyu tersebut. Maka dari itu, kembalilah kamu ke keraton Pajang, berkumpul dan rukun-rukunlah dengan saudaramu Danang Sutowijoyo. Dia tidak akan tega dengan kamu.” Kata Sunan Kalijaga. Setelah memberikan nasehat, Sunan Kalijaga menghilang. Paginya, Pageran Benawa memanggil Ki Rebo. Diceritakan tentang mimpinya bertemu Sunan Kalijaga. Pangeran Benawa mengajak Ki Rebo untuk kembali ke Pajang, namun Ki Rebo tidak mau. Ki Rebo berkeinginan babad alas ini. Pangeran Benawa pulang ke Pajang meningalkan Ki Rebo. Tempat yang digunakan untuk tafakur Pangeran Benawa diberi nama tanah Benawa. Sekarang menjadi tempat pemakaman yang dinamakan Kuburan Benawa. Ki Rebo berkeliling sambil melihat kanan kirinya. Sampailah disebuah tebing yang terdapat pemandangan yang sangat indah. Di sana terdapat sebuah pohon besar dan daunnya yang rindang. Di bawahnya, sungai mengalir dan banyak batu besar ( watu gede ). Ki Rebo duduk di atas batu sambil memandang arah barat dan terlihat Gunung Muria. Di dalam hati Ki Rebo berkata,” Suatu saat nanti, kalau aku berhasil babad alas ini menjadi sebuah desa, aku akan memberinya nama Waturoyom ( salah ucapan menjadi Waturoyo ).” Ki Rebo dibantu saudaranya dari Pajang untuk menjadikan hutan sebagai desa. Tidak lama kemudian, jadilah desa Waturoyo dan ditempati oleh banyak orang. Sedangkan Ki Rebo terpilih menjadi Penggedhe Waturoyo ( Ki Gedhe Waturoyo ). Ki Gedhe Waturoyo mempunyai sahabat dekat yaitu Ki Gedhe Pakis. Suatu hari, Ki Gedhe Pakis datang ke Waturoyo untuk mengajak Ki Gedhe Waturoyo memasang blandhong ( jebakan ikan ) di pesisir utara. Ki Gedhe Waturoyo mau dan menetapkan pada hari kamis untuk pergi. Kamis pagi, Ki Gedhe Waturoyo sudah berangkat. Tidak lama kemudian, ia sampai di Pakis. Namun, kelihatannya masih sepi, hanya terlihat Nyi Gedhe ( istrinya Ki Gedhe Pakis ) yang sedang menyapu halaman rumah. Nyi Gedhe Pakis sangatlah cantik dan masih muda. “ Nyi, Ki Gedhe Pakis ada?, sudah janji mau masang blandhong kok.”, tanya Ki Gedhe Waturoyo. “ Ooo..........dia sudah pergi, dia tidak bilang kalau ada janji dengan kamu.”, jawab Nyi Gedhe Pakis. Ki Gedhe Waturoyo kecewa, dalam hati ia berkata, “ Bagaimana maunya Ki Gedhe Pakis itu?. Lama-lama muncul perasaan buruk melihat istrinya Ki Gedhe Pakis yang terlihat cantik. Kemudian Ki Gedhe Waturoyo memeluk dan mencium Nyi Gedhe Pakis. Nyi Gedhe Pakis berteriak. Khawatir ketahuan orang, Ki Gedhe Waturoyo lari pulang. Tiga hari berlalu, Ki Gedhe Pakis baru pulang. Nyi Gedhe Pakis bercerita tentang apa yang telah dilakukan Ki Gedhe Waturoyo kepadanya. Ki gedhe Pakis tidak menyangka kalau sahabatnya seperti itu. Namun hanya dipendam saja. Setelah satu bulan kejadian itu, Ki Gedhe Pakis pergi ke Waturoyo berniat untuk meminta maaf sudah meninggalkannya. Ki Gedhe Pakis mengajak untuk memasang blandhong lagi pada hari sabtu depan. Ki Gedhe Waturoyo menyetujui dan berpesan jangan sampai meninggalkannya lagi. Sebenarnya itu hanya siasat Ki Gedhe Pakis untuk menjebak Ki Gedhe Waturoyo. Malam sabtu, rumahnya Ki Gedhe Pakis sudah dikepung (sekitar 25 orang) sambil membawa senjata. Ki Gedhe Pakis juga sudah bersiaga dan bersembunyi. Sekitar habis subuh, Ki Gedhe Waturoyo datang ke rumah Ki Gedhe Pakis. Nyi Gedhe Pakis sudah menyapu halaman rumah. “ Ki Gedhe pakis dimana, Nyi?”, tanya Ki Gedhe Waturoyo. Nyi Gedhe pura-pura kaget dan berkata, “ Lho, bagaimana ini? Ki Gedhe Pakis sudah pergi, katanya dia janjian di jalan saja.” Dheg, hatinya Ki Gedhe Waturoyo seperti dilempar batu, merasa ditipu. Muncul sebuah gagasan, kalau Ki Gedhe Pakis itu sengaja meninggalkan istrinya. Tiba-tiba muncul perasaan buruk untuk memperkosa Nyi Gedhe Pakis. Nyi Gedhe Pakis berteriak minta tolong. Orang-orang keluar dari utara, selatan, timur, barat dengan membawa senjata yang dipimpin oleh Nyi Gedhe Pakis. Ki Gedhe Waturoyo kaget dengan banyaknya orang tersebut. Setelah mengalahkan 3 orang, Ki Gedhe Waturoyo lari. Orang-orang mengejarnya. Pada waktu itu matahari sudah terbit, Ki Gedhe Waturoyo sampai di sawah yang ditanami ketan ireng ( ketan hitam ) yang siap panen dan bersembunyi di tengah sawah. Tiba-tiba dia berubah menjadi ayam alas lanang ( ayam jago ). Orang-orang pakis terus mencari Ki Gedhe Waturoyo. Ki Gedhe Pakis memberi perintah, “ Ayo, cari di sawah!” Semua orang turun ke sawah. “ Bagaimana, ketemu?”, tanya Ki Gedhe Pakis. “ Oo.....ndak ada Ki Gedhe, hanya ada ayam jago.”, jawab orang-orang. Ki Gedhe Pakis sangat kesal. Dia berwasiat, “ Keturunanku, orang-orang pakis tidak boleh menanam ketan ireng. Bagi siapa saja yang berani melanggarnya akan mendapat musibah.” Orang-orang kemudian bubar dengan kecewa. Sesampainya di desa Ngemplak Lor, Ki Gedhe Waturoyo berubah menjadi manusia lagi dan pulang ke rumah. Ki Gedhe Waturoyo mengumpulkan anak cucunya dan orang-orang waturoyo, “ Jangan ada yang berani mengganggu atau memelihara ayam alas dan tidak diperbolehkan menikah dengan orang pakis. Barang siapa yang melanggar akan mendapat musibah.” Ki gedhe Waturoyo masih benci dengan Ki Gedhe Pakis. Semboyannya, “ Utang wirang males wirang, utang pati nyaur pati.”